Jumat, 05 September 2008

Diduga MA-60 Milik Merpati

Teka-teki jenis pesawat yang sempat terbang rendah di atas Bandara Notohadinegoro, Kamis (3/9), sedikit terjawab. Dinas Perhubungan (Dishub) Jember menduga, pesawat yang masuk ke Jember itu jenis MA-60. “Tapi dari maskapai mana, kami belum bisa memastikan,” kata Kasi Sarana Prasaran Dishub Jember Anas Ma’ruf kepada Erje kemarin (4/9).

Dia mengatakan, pihaknya sudah koordinasi dengan Dishub Jatim. Ternyata, Dishub Jatim juga tak pernah mengeluarkan izin untuk penerbangan ke Jember. “Berarti izinnya dari Dephub. Artinya itu penerbangan antarprovinsi,” ungkap mantan Lurah Sumbersari ini.

Seperti diketahui, sekitar pukul 08.10, petugas Bandara Notohadinegoro dikejutkan dengan kedatangan sebuah pesawat tak dikenal. Pesawat itu terbang rendah di atas landasan. Pesawat tersebut hanya sekali terbang di atas bandara. Pesawat datang dari utara, lalu terbang rendah di atas landasan, selanjutnya terbang tinggi menuju selatan.

Pesawat tersebut berciri-ciri didominasi warna putih dengan kombinasi warna merah di sekitar badannya. Pesawat itu juga memakai baling-baling di kedua sayapnya.

Menurut Anas, jika penerbangan pesawat itu tak mendarat di Jember, tidak diperlukan izin ke dishub. Namun, jika penerbangan pesawat itu juga mendarat di Jember, diperlukan izin dari Dishub Jember.

Dengan demikian, hingga kini pihaknya belum bisa mengidentifikasi asal maskapai pesawat tersebut. “Jenisnya kami duga MA-60. Yang punya pesawat MA-60 itu salah satunya Merpati,” tandasnya.

Jika benar pesawat itu berjenis MA-60, penjelasan Anas tersebut memiliki relevansi dengan penjelasan Bupati Jember M.Z.A. Djalal. Usai mengikuti joy flight Jember – Surabaya PP dengan sejumlah pejabat Pemkab Jember kemarin, bupati mengatakan, pihaknya sudah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan maskapai Merpati.

“Merpati penjajakan akan masuk ke Jember. MoU-nya sendiri sudah ditandatangani awal Agustus lalu,” ungkap Bupati Djalal. Jika Merpati positif masuk ke Jember, maskapai nasional yang kini fokus pada penerbangan antarkota itu akan menggunakan pesawat buatan Cina. “Merpati memakai pesawat buatan Cina kapasitas sekitar 60 orang. Lebih besar dari yang sekarang,” sambung bupati.

Informasi yang dihimpun Erje, MA-60 merupakan pesawat buatan pabrik pesawat Man di Provinsi Shaanxi (China Aviation Industry Corporation). Pesawat bermesin turbojet propeller dengan dua mesin Pratt & Whitney (PW 127) buatan Kanada itu berkapasitas 52 – 60 orang.

Bupati Djalal menjelaskan, sebenarnya sekitar dua bulan lalu ada dua maskapai yang menyatakan berminat masuk ke Jember. Yaitu, Merpati dan Tri MG yang akhirnya lebih dulu beroperasi di Jember.

Meskipun dengan Merpati sudah ada MoU, dia menyatakan, hal itu belum ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerjasama. Sebab, pihaknya masih akan melihat kemampuan APBD.

Selain itu, respons pasar di Jember dan sekitarnya juga perlu dilihat. “Kalau ternyata bagus dan ramai, kapasitas akan kita naikkan dengan menggunakan pesawat yang lebih besar,” tandasnya.

Sementara itu, sebagai bentuk promosi, Bupati Djalal dan Wabup Kusen Andalas beserta sejumlah pejabat Pemkab Jember melakukan joy flight dari Jember – Surabaya PP. Bupati Djalal bersama sejumlah kepala dinas dan kabag terbang menggunakan penerbangan pertama. Sedangkan Wabup beserta sejumlah kepala dinas dan kabag mendapat giliran menggunakan penerbangan kedua.

Menurut Bupati Djalal, dia bersama rombongan pejabat Pemkab Jember sengaja ingin merasakan penerbangan dengan pesawat Tri MG dari Jember ke Surabaya PP. “Ini sekaligus promosi bahwa sekarang pergi ke Surabaya sangat cepat. Masyarakat juga tidak perlu takut. Bupatine ae wani (bupatinya saja berani, Red),” papar bupati usai mendarat kembali di Jember.

Bagaimana rasanya penerbangan Jember – Surabaya PP? “Sangat enak sekali. Pesawat terbang di ketinggian 8.500 kaki. Jadi tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Melihat ke bawah, masih bisa melihat rumah-rumah dan jalan-jalanm” jawabnya.

Bahkan, lanjut dia, rute penerbangan Jember – Surabaya PP juga bisa digunakan sebagai salah satu sarana rekreasi udara. “Karena dari udara kita mendapat bonus untuk bisa melihat puncak Gunung Semeru dan Bromo. Dari udara terlihat jelas letusan Semeru di atas awan. Indah sekali,” terangnya.

Sepekan penerbangan Jember – Surabaya PP dibuka, menurut bupati, ada dua hal yang mendesak untuk dibenahi. Yakni, promosi yang masih perlu diperluas, tak hanya di Jember tetapi juga di Surabaya. Bahkan, jika perlu hingga ke Jakarta. Hal lain yang perlu segera dibanahi pula adalah kemudahan calon penumpang untuk mendapatkan tiket. (har)

Dishub Kebobolan Pesawat Tak Dikenal

Petugas Bandara Notohadinegoro dikejutkan dengan kedatangan pesawat tak dikenal Rabu (3/9). Pesawat yang belum jelas identitasnya itu sempat terbang rendah di atas landasan pacu (run way) Bandara Notohadinegoro, Wirowongso, Ajung.

Menurut Sigit Pramono, staf bandara, dia bersama empat orang rekan lainnya kebagian piket pagi. Di bandara pagi itu juga ada sejumlah pekerja pembangunan taxi way dan apron. “Sekitar pukul 08.10, saya mendengar suara pesawat. Keras sekali, seperti ada di sekitar bandara,” katanya saat ditemui Erje di bandara.

Dia bersama beberapa rekan yang saat itu piket langsung berlari ke arah belakang terminal kedatangan. “Ternyata ada pesawat terbang rendah di atas landasan. Pesawat itu memang tak sampai mendarat,” ujarnya.

Kedatangan pesawat itu benar-benar mengejutkan staf bandara. Karena kemarin merupakan hari libur penerbangan ke Jember. “ATC (air traffic control, pengawas lalu lintas udara, Red) tutup. Yang ada hanya Pak Sukamto (staf Dishub Jatim yang diperbantukan ke bandara, Red),” tukasnya.

Sukamto sendiri, menurut dia, tidak tahu jika ada pesawat yang bakal terbang rendah di bandara. “Kalau melihat pesawat itu terbang rendah di atas landasan, sepertinya sedang melihat landasan bandara,” terkanya.

Pesawat itu, lanjut dia, hanya sekali terbang di atas bandara. Pesawat datang dari utara, lalu terbang rendah di atas landasan, selanjutnya terbang tinggi menuju selatan.

Sigit mengaku tak tahu persis jenis pesawat itu berikut maskapainya. Pesawat tersebut berciri-ciri didominasi warna putih dengan kombinasi warna merah di sekitar badannya. “Pesawatnya memakai baling-baling di kedua sayapnya. Seperti jenis Fokker,” ungkapnya seraya tak memperhatikan apakah di ekor pesawat ada logi maskapai atau tidak.

Menurut dia, kedatangan pesawat yang identitasnya sejauh ini belum dikenal itu bersamaan dengan hari libur operasinya pesawat Tri MG yang disewa Pemkab Jember. “Sepertinya mereka tahu kalau penerbangan ke Jember hari ini libur. Makanya mereka berani ke Jember,” tandasnya.

Mantan staf Terminal Pakusari ini mengaku tidak tahu apakah kedatangan pesawat tersebut sudah seizin atau berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember atau tidak. Yang jelas, belum lama pesawat pergi, telepon bandara berdering.

Suara di ujung telepon, sambung dia, menanyakan apakah pesawat mendarat di bandara atau tidak. “Saya tidak tahu siapa yang telepon. Tapi kalau melihat langsung merespon ketika tahu ada pesawat masuk Jember, mungkin orang dishub. Saya belum sempat tanya siapa peneleponnya,” tuturnya.

Kadishub Jember Sunarsono belum berhasil dikonfirmasi terkait masuknya pesawat yang belum bisa diidentifikasi identitasnya itu. Hanya, Kasi Sarana Prasarana Dishub Jember Anas Ma’ruf mengakui, kemarin pagi ada pesawat yang terbang rendah di Bandara Notohadinegoro.

“Tapi kami belum tahu itu pesawat apa dan dari maskapai mana. Kami masih mencoba mencari tahu identitasnya,” jelas Anas yang selama ini banyak terlibat dalam mempersiapkan penerbangan ke Jember ini.

Pihaknya masih akan koordinasi dengan Dishub Jatim. “Barangkali ada izin dari Dishub Jatim untuk masuk Jember. Yang jelas tidak ada izin yang kami keluarkan untuk penerbangan lain untuk masuk Jember hari ini (kemarin, Red),” ungkapnya. (har)

Penerbangan Jember dan Inspirasi AirAsia

PADA Asia Pacific Media Forum 2008 di Bali, Chief Executive Officer (CEO) AirAsia Tony Fernandez berkesempatan memberi paparan bagaimana maskapai low cost carrier (LCC, penerbangan berbiaya murah) ini membangun bisnisnya. Di hari pertama operasinya, AirAsia hanya bermodal dua pesawat dan harus menanggung beban utang hingga 40 juta Ringgit Malaysia (RM). Tapi kini AirAsia masuk dalam jajaran 50 Most Innovative Companies in The World versi majalah Fast Company.

Sebagai orang berlatar belakang finance, Tony memiliki kekuatan dalam pengelolaan keuangan, yang menjadi pilar penting dalam bisnis LCC. Lebih dari itu, menurut dia, seorang CEO amat penting menjadi marketing driven company. Sehingga, AirAsia sangat serius membangun brand, termasuk co-branding dengan Manchester United dan F1 Williams. Termasuk membangun public relation yang baik dan terbuka dengan media.

Tony juga mengungkapan, inovasi merupakan hal penting dalam segala lini bisnisnya. Misalnya, AirAsia berinovasi membuka rute-rute menuju kota yang jarang diterbangi, seperi Bandung – Kuala Lumpur, Solo – Kuala Lumpur, dan sebagainya. Tentu saja inovasi itu merupakan kombinasi yang pas antara kalkulasi bisnis dan keberanian seorang CEO dalam mengambil keputusan.

Inovasi lain yang dibangun adalah keberanian menggunakan internet sebagai satu-satunya channel penjualan tiket, sebelum akhirnya melebar ke channel-channel lain. Tapi hingga kini internet tetap menyumbang kontribusi besar dalam penjualan tiket yang mencapai 70 – 80 persen dari pendapatan mereka.

Sumber daya manusia (human resource) juga menjadi perhatian AirAsia. Tony menyebut “Sky is The Limit” untuk karir pegawainya. Bagaimana di AirAsia muncul kisah porter menjadi pilot setelah dia menunjukkan minatnya, kemudian disekolahkan, dan lulus tes. Juga ada pramugari jadi pilot, kemudian menang Miss Thailand, dan balik menjadi pilot lagi. Dan banyak kisah karir lain.

Dan banyak hal lain yang bisa dipetik dari uraian Tony. Namun ada satu ungkapan yang menarik untuk direnungkan. “If you are small, don't be afraid!” Dengan motto now everyone can be fly (kini setiap orang bisa terbang), membuat AirAsia menjadi salah satu maskapai LCC yang disegani di dunia.

* * *

Tulisan di atas bukan hendak membandingkan apa yang terjadi di Bandara Notohadinegoro dalam lima hari terakhir dengan kondisi AirAsia. Sungguh tak elok jika membandingkan rintisan penerbangan Surabaya – Jember PP dengan AirAsia yang kini menjadi salah satu imperium bisnis LCC terbesar di Asia.

Saya tahu, Pemkab Jember tak akan selamanya mengelola penerbangan di Jember seperti sekarang. Keberanian bupati menyewa pesawat Tri MG adalah hal yang membuat saya harus angkat topi.
Tapi, selama belum ada maskapai bersertifikat AOC 121 (semacam Garuda, dan sebagainya) yang masuk ke Jember, untuk sementara penerbangan Jember akan dilayani maskapai bersertifikat AOC 135 (pesawat carter atau sewa). Artinya, sementara pula Pemkab Jember harus menyewa pesawat dan mengelola bisnis penerbangan ini secara mandiri.

Tapi, saya ingin mengajak kita semua merenung bahwa ada inspirasi besar dari AirAsia untuk mengembangkan rute penerbangan di Jember. Semuanya dimulai dari yang kecil. “If you are small, don't be afraid!” Kata kunci dari inspirasi AirAsia adalah kepemimpinan, manajemen, pemasaran, inovasi, dan sumber daya manusia.

Pertama, kepemimpinan. Di tahun pertamanya, AirAsia sudah mampu membukukan laba, dari sebelumnya beroperasi dengan beban utang RM 40 juta. Semua tak lepas dari sentuhan tangan dingin seorang Tony Fernandez.

Saya meyakini, pengelolaan bisnis penerbangan di Jember akan berkembang jika “dipiloti” oleh orang yang tepat. Bisnis penerbangan membutuhkan tangan profesional. Tanpa mengurangi rasa hormat, suatu hal yang sulit dicerna jika pengelola penerbangan di Jember dilakukan oleh bupati atau kepala dinas perhubungan (kadishub) yang berlatar belakang pejabat politik dan birokrat.

Bukan pada persoalan mampu atau tak mampu. Namun, lebih kepada persoalan profesionalisme. Tugas yang diemban bupati dan kadishub tak hanya mengelola penerbangan, tapi bertumpuk-tumpuk tugas pelayanan publik yang lain. Sehingga tak salah jika rintisan bisnis penerbangan di Jember ini dikelola oleh yang mengerti bisnis penerbangan.

Mahal dan terlalu muluk? Ini bukan hal muluk. Investasi rakyat Jember di bidang penerbangan sudah kelewat besar. Untuk membangun bandara saja, uang rakyat Jember terkuras sekitar Rp 30 miliar. Untuk sewa pesawat, di tiga bulan pertama ini, uang BUMD sudah terkuras Rp 4 miliar lebih. Karena investasi yang kelewat mahal bagi Jember itu harus dibayar dengan pengelolaan yang profesional.

Saat ini memang bukan bab membicarakan untung atau rugi. Namun, bab yang sedang kita bicarakan adalah bagaimana membangun kepercayaan pasar (baca: konsumen pesawat) dan menarik maskapai lain agar datang ke Jember tanpa harus menguras APBD. Kepercayaan dan tarikan investasi rasanya sulit terjadi jika rintisan penerbangan awal ini tak menunjukkan prospek dan perkembangan berarti.

Kedua, manajemen. Organisasi pengelola penerbangan harus ditata secara matang. Saya pikir mustahil mempertahankan organisasi pengelola penerbangan di Jember seperti sekarang ini untuk selamanya. Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) selaku pemodal, sedangkan pengelola lapangan adalah dishub.

Penerbangan bukan core business PDP. BUMD sendiri memiliki sejumlah rambu yang harus ditaati sesuai UU BUMD. Sedangkan bidang tugas dishub juga sangat banyak, bukan hanya masalah penerbangan. Maka, sejak sekarang harus dirintis organisasi tersendiri, misalnya BUMD baru di bidang penerbangan. Untuk ke arah sana, pemkab bisa membangun komunikasi dengan para ahli dan dewan.

Ketiga, pemasaran. Mengapa jumlah penumpang penerbangan di Jember pekan pertama masih sepi? Salah satu persoalannya adalah pemasaran. Banyak orang –terutama luar Jember yang hendak ke Jember—tidak tahu bahwa kini ada penerbangan ke Kota Suwar-Suwir. Di Surabaya pun amat kesulitan mengakses informasi bagaimana untuk menggunakan jasa ini.

Sebagai jasa baru di Jember, tak bisa hanya mengandalkan penyebaran brosur dan pemasangan spanduk saja. Perlu terobosan promosi dan pelayanan yang memudahkan calon penumpang menggunakan jasa ini. Tak sekadar mengandalkan loket di bandara dan PDP nantinya, namun harus ada pula tim marketing yang aktif jemput bola ke calon konsumen potensial.

Keempat, inovasi. Mulai saat ini pengelola penerbangan di Jember harus mampu merumuskan formulasi inovasi, baik di bidang manajemen, marketing, dan pelayanan.

Dan kelima, sumber daya manusia. Ke depan, pengelola penerbangan di Jember harus memikirkan pengembangan SDM di bidang penerbangan terkait tugas-tugas pelayanan publik. Konsumen penerbangan sangat segmented. Mereka berasal dari kalangan menengah ke atas yang amat menjunjung tinggi kenyaman (comfortable) dalam pelayanan. Kalangan ini tak segan membayar mahal demi kenyamanan.

Terlepas apa pun kekurangan dalam rintisan penerbangan di Jember, tak bijak kiranya jika di waktu yang amat singkat ini langsung menilai gagal atau berhasil. Bisnis ini merupakan bisnis jangka panjang. Efek lain yang muncul dari pembukaan penerbangan ke Jember juga sangat besar. Prinsipnya, “If you are small, don't be afraid!” (*)

Selasa, 02 September 2008

Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (2 - Habis)


Mirip orang mimpi. Demikian komentar salah seorang rekan wartawan yang mengikuti penerbangan Jember – Surabaya, Jumat (29/8). Perjalanan darat yang biasanya ditempuh 3 – 6 jam, kini cukup ditempuh 30 menit.

MENGANGKASA bersama pesawat Tri MG memang luar biasa. Bagi yang terbiasa naik pesawat Boeing, perlu adaptasi dulu ketika naik pesawat berkapasitas 18 penumpang ini. Sama-sama mengangkasa, tapi tentu tetap ada bedanya ketika naik pesawat Boeing dengan LET 410.

Bagi yang belum pernah naik pesawat sama sekali, naik LET 410 cukup menantang. Terutama ketika pesawat harus beradu dengan gumpalan awan. Pesawat pasti tergoncang –meskipun sebenarnya pesawat sebesar Boeing pun pasti tetap berguncang ketika menabrak awan.

Tapi jangan dibayangkan guncangan itu sampai membuat kita terpelanting dari tempat duduk pesawat. Tidak! Hanya seperti ketika kita naik bus atau mobil terkena jalan berlubang-lubang. “Seperti naik bus patas Pasuruan,” ujar Dwi Satriya, Avia Karya Manajer Tri MG yang ikut menemani para wartawan.

Yang belum pernah naik pesawat sama sekali, biasanya merasa sedikit pusing. Itu pula yang dialami beberapa wartawan yang ikut penerbangan ini yang sebelumnya belum pernah naik pesawat. Saya sudah siap dengan tantangan itu, sehingga saya tak sampai pusing atau mabuk udara.

Namun, jika pesawat tak sedang berada di tengah kepungan awan, laju pesawat LET 410 cukup stabil dan nyaman. Seperti halnya ketika naik Boeing. Nyaman dan bisa buat sambil baca koran. Maka, ketika pesawat keluar dari kepungan awan di sekitar Pegunungan Bromo dan Semeru, pesawat yang kami tumpangi ini benar-benar nyaman. Sejuk sekali di dalam kabin.

Rauwolfie Yudianto, salah seorang penumpang umum yang naik bersama kami, juga mengaku baru kali ini dia naik pesawat kecil. Sebelumnya, pria yang tinggal di Jakarta ini selalu menggunakan Boeing dari Jakarta menuju Surabaya, sebelum ke rumah saudaranya di Jember. “Pada dasarnya saya suka sekali perjalanan dengan pesawat,” katanya.

Mengenakan kacamata hitam, Yudianto amat menikmati perjalanan 30 menit dari Jember ke Surabaya. Sejak awal, dia juga sudah menyiapkan diri untuk perjalanan pertamanya bersama pesawat kecil. “Tetap ada bedanya naik pesawat besar dengan kecil, seperti guncangannya, dan sebagainya,” ungkap pria yang mengaku tak kapok naik pesawat LET 410 ini.

Dia sendiri mendukung pengoperasian pesawat dari Jember – Surabaya PP. Sejatinya dia hendak pulang ke Jakarta pada Kamis. Namun, begitu membaca koran bahwa pesawat Jember – Surabaya akan dioperasikan, dia menunda keberangkatannya.

Ketika di koran ada berita tiket dijual di loket Bandara Notohadinegoro dan PDP, dia sempat ke kantor PDP. Ternyata, saat itu tiket belum dijual di PDP. Sampai akhirnya dia membaca koran bahwa Jumat tiket sudah dijual dan pesawat sudah dioperasikan. “Akhirnya saya mencoba naik pesawat ini,” paparnya yang saat itu telah mengantongi tiket Air Asia dari Bandara Juanda ke Jakarta.

Saat pesawat kami landing di Juanda, Dwi meminta kami tak perlu ke terminal penumpang di Juanda. “Pesawat hanya berhenti 20 menit untuk isi avtur, checking, dan berangkat lagi ke Jember,” ujarnya.

Terpaksa, kami cukup puas istirahat di apron jalur 22, tempat pesawat Tri MG parkir. Kami hanya bisa berteduh dari sengatan matahari di bawah bentang sayap pesawat. Hilir mudik berbagai pesawat, datang dan pergi.

Sebuah tangki Pertamina pengangkut avtur mengisi tangki pesawat. Petugas teknis Tri MG juga melakukan pengecekan sejumlah peralatan pesawat. Ini semua untuk memastikan pesawat benar-benar ready dan laik jalan.

Saat kami baru menjejakkan kaki di Juanda, tiga orang reporter TV menghampiri kami. Mereka berasal dari Arek TV, sebuah televisi lokal Surabaya. Mereka Heru Sukoco (kameraman), Sevira Ratri, dan Maya Libri (keduanya reporter).

“Ternyata Angkasa Pura tidak tahu kalau hari ini dimulai penerbangan regular Surabaya – Jember, Pak,” ujar Maya kepada Kadishub Jember Sunarsono setelah memperkenalkan diri. Mereka mengetahui pengoperasian penerbanan Jember – Surabaya setelah membaca koran.

Sejumlah orang diwawancarai mereka. Mulai dari Sunarsono hingga Manajer Distrik Tri MG Lukman Hakim. “Sebenarnya tadi banyak juga penumpang di terminal kedatangan yang menanyakan penerbangan Surabaya ke Jember,” ungkap Maya kepada Sunarsono.

Rekan-rekan wartawan menawarkan kepada mereka untuk ikut terbang ke Jember. Toh, pesawat masih akan kembali ke Surabaya. Tadinya, Vira –panggilan Savira Ratri—menolak. Alasannya, deadline TV yang baru menjangkau Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) itu pukul 15.00. Sementara berita penerbangan Jember itu harus disiarkan malam harinya.

Rekan-rekan masih membujuk. “Kalau ada ceweknya kan jadi semangat,” ujar salah seorang wartawan dari Jember. Penerbangan kami dari Jember ke Surabaya memang tak ada satu pun penumpang cewek. Biasalah, penumpang cowok.

Rupanya, setelah dibujuk rekan-rekan, mereka tertarik. Akhirnya mereka meminta izin kepada produsernya untuk ke Jember. Ternyata, diizinkan. Jadilah penerbangan Surabaya – Jember ada tambahan penumpang tiga orang wartawan dan seorang pramugari Tri MG. Di pesawat itu kini ada dua penumpang cewek.

Pukul 13.30, mesin pesawat dinyalakan pilot. Sekitar pukul 13.47, pesawat telah take off dari Juanda. Setelah meninggalkan landasan pacu, pesawat terbang di atas hamparan tambak di pesisir Sidoarjo. Selanjutnya pesawat mengangkasa di atas Selat Madura.

Buih putih dari bekas baling-baling perahu nelayan meninggalkan bekas, seakan membelah lautan. Puluhan kerambah ikan milik nelayan yang mirip noktah, juga menambah indah panorama lautan di bawah kami. Pesawat kian tinggi, mengangkasa menuju Jember.

Cuaca benar-benar sangat bersahabat. Tak ada awan selama sekitar 20 menit penerbangan. Rasanya penerbangan Surabaya – Jember terasa lebih nyaman daripada saat kami berangkat. Saat kami bisa menengok puncak Gunung Semeru dari sisi kanan pesawat, laju pesawat stabil. Tak berguncang seperti saat menabrak awan. Pesawat hanya sempat menembus kepungan awan, yang saya perkirakan itu berada di sekitar Pegunungan Argopuro. Tapi itu hanya skeitar dua menit. Setelah itu cuaca clear.

Maya pun sempat on cam dua kali di atas kabin pesawat. Yakni, ketika beberapa menit pesawat mengangkasa. Dan beberapa menit sebelum pesawat mendarat di Jember.

Bahkan, tak lama kemudian, saya hafal benar saat itu pesawat berjalan di atas Kecamatan Bangsalsari. Saya ingat benar beberapa komplek gudang tembakau di sekitar Desa Petung dan Desa Pecoro, Rambipuji. Rel kereta membelah jalan raya di Desa Pecoro itu yang membuat saya tahu bahwa kami sudah tiba di angkasa Jember.

Rasanya pesawat seperti terbang ke arah tenggara. Dan benar, pesawat overhead (terbang memutar). Kami sempat mengelilingi Bandara Notohadinegoro dari sisi barat, lalu ke selatan, dan ke timur. Saat pesawat di timur bandara itu sempat ada gerimis. “Tadinya mau langsung masuk ke utara. Tapi weather-nya gelap,” ujar pilot Wahyudi Kurniawan.

Ketika pesawat berputar ke arah barat di utara bandara, saya baru tahu tentang check point, seperti yang diceritakan pilot Bambang Ontoseno. Dia pernah cerita, untuk memutar pesawat ke arah landasan pacu Bandara Notohadinegoro, dia menggunakan pengamatan visual.

Check point adalah semacam penanda bagi pilot untuk mengarahkan pesawat menuju landasan pacu. Dan check point itu berupa menara masjid. Tadinya saya mengira check point itu menara Masjid Jamik Al Baitul Amien. Ternyata, menara yang dimaksud Bambang adalah menara masjid di Desa Wirowongso, terletak di tikungan terakhir sebelum belok ke bandara, kalau kita berangkat dari Jember.

Moncong pesawat pun sejajar dengan landasan pacu. Pesawat kian terbang rendah. Saya sempat mengintip kabin pilot. Asyik juga ternyata melihat pemandangan dari kabin pilot. Sekitar pukul 14.20, roda pesawat telah menjejak di landasan pacu Bandara Notohadinegoro. Tepuk tangan membahana dari semua penumpang di kabin pesawat. Kami semua selamat. Perjalanan Jember – Surabaya PP begitu mengesankan. (*)



Foto by Heru Putranto

Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (1)


Banyak orang Jember yang berpengalaman naik pesawat turbo jet milik maskapai penerbangan nasional. Tapi, mungkin belum banyak orang Jember yang berpengalaman naik pesawat LET 410 milik Tri MG yang mulai kemarin hingga tiga bulan ke depan menerbangi rute Surabaya – Jember PP. Juimat 29 Agustus lalu aku berkesampatan menjajal penerbangan Jember – Surabaya PP dengan pesawat buatan Ceko itu.

KEPALA Dinas Perhubungan (Kadishub) Jember Sunarsono sejak beberapa hari terakhir sangat sibuk. Selain menyiapkan penerbangan regular ke Jember, dia juga harus putar otak mencari salah satu cara untuk mempromosikan penerbangan regular Surabaya – Jember. Akhirnya, ditemukanlah salah satu cara yang dianggapnya sangat efektif. Yakni, mengajak wartawan untuk terbang bersama Jember – Surabaya PP dengan pesawat LET 410.

Maka, ketika sejumlah wartawan meliput penerbangan regular pertama di Jember kemarin, dia mengajak para wartawan untuk menjajal penerbangan rute bersejarah bagi Jember itu. Saya pun langsung menyambar tawaran itu. Bagi saya, tak mungkin saya bisa membuat laporan perjalanan penerbangan Jember – Surabaya PP kalah hanya mengandalkan pemaparan penumpang lain. Saya harus merasakannya langsung.

Ketika tawaran ini saya teruskan ke Heru Putranto, rekan saya sekantor yang bertugas sebagai fotografer, Heru langsung mengiyakan. Selain saya dan Heru, ada beberapa wartawan lain yang mengikuti penerbangan perdana ini. Yaitu, M. Dawud (Prosalina FM), Oryza Ardyansah (beritajatim.com), Hamka (JTV Jember), dan Badrus (fotografer Antara).

Tak perlu membeli tiket, kami langsung boarding ke petugas di terminal keberangkatan. Saya harus menimbang tas ransel saya. Bukan timbangan digital atau barang, melainkan timbangan badan. Berat ransel saya 6 kg. Saya juga harus timbang badan. Jarum timbang menunjukkan angka 76 kg. Ini berat rekor saya seumur hidup.

Mengapa harus timbang badan dan barang? Kata Sugeng Surya W, petugas boarding pass, timbang barang dilakukan untuk mengetahui berat barang setiap penumpang. Maksimal 10 kg/orang. Lebih dari 10 kg, dikenakan charge tambahan biaya bagasi 1 persen per kg.

Sedangkan timbang badan diperlukan sebagai data manifes bagi kru pesawat. Karena LET 410 tergolong pesawat kecil, tempat duduk penumpang perlu diatur. Di kabin pesawat LET 410, sebelah kiri terdiri satu lajur berisi enam deret, sedangkan sebalah kanan dua lajur. Dengan mengetahui berat badan penumpang, petugas bisa menempatkan tempat duduk yang tepat agar nyaman.

Semua wartawan yang mengikuti penerbangan itu, telah ditimbang berat badan dan barang. Kadishub Sunarsono juga harus melakukan timbang berat badan. “Tak pandang bulu, semua penumpang harus mengikuti prosedur ini,” ujar Wakijan, konsultan dari PT Aero Express International.

Sekitar pukul 11.45, semua penumpang boarding. Termasuk Rouwolfie Yudianto, penumpang umum yang hendak ke Jakarta. Karena tas para wartawan sebatas ransel, masih bisa dibawa ke kabin, tak perlu masuk bagasi. Sedangkan koper Yudianto ditenteng petugas untuk dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. “Kita akan memutar di atas kota Jember satu kali,” ujar Dwi Satriya, kru Tri MG.

“Wah, lumayan nih,” sahut Sunarsono. “Ayo, yang belum tulis wasiat ke keluarga, kirim SMS dulu,” sambung Sunarsono, berkelakar. Tentu saja ungkapan Sunarsono itu disambut gelak tawa penumpang lain.

Saya duduk di deret kedua sebalah kiri, sejajar dengan sayap. Sehingga dengan jelas saya melihat baling-baling pesawat berputar. Cepat. Rekan saya, Heru Putranto, duduk di deret paling belakang sebalah kanan. Setelah semua penumpang mengenakan sabuk pengaman, kru pesawat mengingatkan kami untuk mematikan ponsel.

Mesin pesawat menyala. Makin lama kian keras. Setelah sekitar lima menit, pesawat bergerak. Kaca di kabin pilot masih terbuka. Angin berembus semilir. Pesawat melintasi taxi way, lalu bergerak ke utara menuju ujung landasan. Kaca di kabin pilot sudah ditutup.

Di ujung landasan, pesawat masih berhenti sekitar tiga menit. Suara mesin pesawat kian kencang. Sebagai manusia normal, mulut saya merapalkan berbagai doa agar sepanjang perjalanan diberi kelancaran dan keselamatan. Tak berselang lama, pesawat pun melaju.

Kencang sekali. Sebelum tiba di pertigaan runway dan taxi way, pesawt sudah melayang. Tak sampai semenit kemudian, saya melihat bodi penutup roda yang tadinya terbuka, kini menutup. Ayunan kecil kami rasakan saat pesawat mengangkasa ke arah selatan.

Saya melihat jendela. Panorama di bawah sana sungguh indah. Jajaran gunung di sebelah timur berderet kokoh. Entah di atas daerah mana, pesawat miring ke kanan. Pilot memutar pesawat menuju arah timur untuk selanjutnya melayang ke utara.

Di angkasa, bingung pula mengidentifikasi pesawat berada di atas mana. Hanya saja, ketika saya melihat atap GOR Kaliwates yang sangat saya hafal, saya baru bisa memastikan ternyata pesawat berada di sebelah utara double way Jl Gajah Mada. Lama kelamaan pesawat terasa kian meninggi. Pemandangan di bawah sana makin mengecil.

Pesawat kian tinggi, menuju 8.500 kaki (feet). Entah di atas daerah mana, pesawat yang kami tumpangi mulai menembus awan. Guncangan mulai terasa. Bahkan, ada kalanya terasa agak keras. “Setiap pesawat yang menabrak awan pasti berguncang,” ujar Dwi, seakan menjawab kekhawatiran yang menyergap sebagian penumpang.

Saya sendiri berusaha tenang. Toh, ini bukan pengalaman pertama saya naik pesawat, meskipun sebelumnya yang saya tumpangi sekelas Boeing. Sekitar 15 menit di udara, saya bisa menyaksikan asap Gunung Semeru dari jendela. Asapnya letusannya bagai cendawan.

Tiba-tiba, teman-teman dari arah belakang berteriak kalau Heru, rekan saya itu, mabuk udara. Kontan teman-teman tertawa. “Her, itu Semeru yang kamu tunggu-tunggu. Tak difoto?” tanya Dawud.

Teman saya itu sejak sebelum naik pesawat sudah “mengancam” saat di udara nanti bakal membidik Semeru dengan kamera Nikon D-200-nya. Heru yang terus-terusan digojlok hanya tersenyum kecut. Tapi, meski dengan kondisi mabuk udara, dia masih menyempatkan membidik Semeru dengan kameranya.

Pesawat menembus awan sekitar lima menit. Meski hanya lima menit, guncangannya cukup lumayan. Oryza, wartawan beritajatim.com, mengeluh sempat mual. Tapi, itu tak berlangsung lama. Setelah lepas dari kepungan awan, cuaca clear alias cerah. Pesawat terbang dengan tenang, nyaris tanpa guncangan. Di bawah sana PLTU Paiton terlihat jelas. Bak noktah-noktah, keramba milik nelayan pesisir Selat Madur terlihat jelas di lautan utara Paiton. Pesawat melayang di atas Selat Madura.

Buih bekas baling-baling kapal yang membelah lautan menciptakan garis putih di atas lautan biru. Indah sekali. Selanjutnya, pilot menunrunkan ketinggian pesawat. “Pesawat di ketinggian 6.500 feet,” ungkap Dwi, saya saya tanya ketinggian pesawat.

Selang sekitar lima menit, kota Surabaya sudah tampak. Beberapa gedung jangkung menjulang ke langit. Salah satunya adalah Cito (City Tomorrow), mall di dekat bundaran Waru, Sidoarjo. Tak perlu overhead, pesawat langsung menuju runway Bandara Juanda. Sekitar pukul 12.30, ban pesawat menjejak landasan pacu. (*)
Foto by Heru Putranto

Agar Tim Sukses Tak Jadi Benalu

PILKADA Lumajang dan Bondowoso telah selesai dihelat. Di Lumajang, Sjahrazad Masdar dinyatakan sebagai bupati terpilih. Sedangkan di Bondowoso, Amin Said Husni ditetapkan KPU sebagai orang nomor satu di Pemkab Bondowoso.

Tak ada salahnya jika saya mengemukakan sebuah isu aktual pasca pilkada. Yakni, tentang tim sukses. Anggaplah catatan pendek ini sebagai early warning atau peringatan dini bagi siapa pun yang menjadi bupati di Lumajang dan Bondowoso.

Siapa pun tahu, setiap calon bupati yang memenangi pilkada, tak lepas dari peran dan perjuangan tim sukses, selain hasil kerja keras sang calon sendiri, tentunya. Tim sukses dibentuk sebagai organ pendukung dan supporting system pemenangan calon tertentu.

Tim sukses dibentuk untuk menggalang suara sebesar-besarnya. Di dalam tim sukses, biasanya sudah ada pembagian peran yang umumnya tak tertulis. Misalnya, ada tim sukses yang tugasnya menggalang dukungan akar rumput, menggalang opini publik, menggalang dana, membangun jaringan dan lobi, dan sebagainya.

Siapakah yang duduk di tim sukses? Biasanya, orang dekat dan kepercayaan sang kandidat, atau tokoh parpol yang mengusung calon tersebut. Tim sukses inilah yang biasanya dicatatkan oleh sang kandidat dalam struktur resmi tim kampanye yang didaftarkan ke KPU.

Bagi tim sukses, bekerja keras memenangkan sang kandidat ibarat petani yang tengah menyemai benih. Jika benih yang disemai mengahasilkan buah yang bagus (baca: sang kandidat menang pilkada), tentu tim sukses berharap bisa melakukan panen raya (menangguk untung dari kemenangan sang kandidat).

Keuntungan yang dimaksud bisa bermakna banyak hal. Bisa berupa duit, jabatan, akses, fasilitas, proyek, dan sampai yang paling sederhana, gengsi. Dengan kemenangan sang kandidat, tim sukses pasti merasa menjadi orang yang paling berjasa. Sehingga dirinya merasa sebagai orang pertama yang harus mendapatkan keuntungan dari naiknya sang kandidat sebagai kepala daerah.

Persoalannya adalah, bagaimana seorang bupati terpilih harus mengelola tim suksesnya pasca pilkada? Pertanyaan ini selalu muncul pada setiap momen pemilu, bupati/walikota, gubernur, termasuk di pemilihan presiden (pilpres).

Seorang presiden, dengan kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki, bisa memberikan kompensasi pada tim suksesnya menduduki jabatan politik tertentu. Misalnya, menteri, juru bicara, staf khusus kepresidenan, dewan pertimbangan, dan lain sebagainya.

Tapi, bupati tidak bisa melakukan hal semacam itu. Jabatan kepala dinas di pemerintah daerah bukanlah jabatan politik sebagaimana menteri, melainkan jabatan karir. Tak sembarang orang bisa menjadi kepala dinas, karena ada aturan kepegawaian yang membatasinya.

Lantas, bagaimana cara seorang bupati terpilih “membalas budi” para tim suksesnya? Disinilah kematangan seorang bupati terpilih diuji. Jika pasca pilkada tim sukses tak dikelola dengan baik, bakal menjadi pisau bermata dua yang bisa “membunuh” si empunya pisau.

“Dibalas budi” atau tidak, tim sukses pasti ingin memanen benih yang sudah ditanamnya. Jika bupati terpilih tak bisa mengendalikan tim suksesnya, maka dirinya sendiri yang bakal dikendalikan tim sukses. Dengan predikat tim sukses, mereka bisa bermanuver dengan segala cara untuk “panen.”

Dengan berpredikat tim sukses, bisa saja mereka mencari kompensasi dengan menggarap proyek-proyek kakap di pemkab. Atau, menjalin bargaining dengan para pejabat agar posisi pejabat tersebut aman, tak dimutasi oleh bupati terpilih. Pendeknya, tim sukses menjadi penggaransi jabatan seseorang.

Di sebagian kalangan, tim sukses yang seperti ini acap disebut sebagai baperjakat (badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan) swasta atau baperjakat bayangan. Perannya bisa lebih besar daripada ketua baperjakat aslinya, yaitu sekda.

Para pejabat pun bakal mengkeret jika didatangi tim sukses yang minta kompensasi segala macam, mulai dari proyek hingga “upeti”, baik dengan cara halus maupun (barangkali) kasar. Bagi para pejabat, tim sukses tak ubahnya tangan kanan bupati yang bisa menentukan nasib seorang pejabat.

Jika tim sukses kerjanya hanya mencari proyek, menarik “upeti” dari pejabat, atau menjadi baperjakat swasta, maka tim sukses seperti ini tak ubahnya musuh dalam selimut bagi bupati terpilih. Tim sukses semacam ini lebih pantas disebut sebagai genta kematian bagi seorang kepala daerah.

Jangan sampai, keberadaan tim sukses pasca pilkada justru menjadi salah satu anasir penghambat roda pemerintahan. Birokrasi telah memiliki sistem yang dibingkai dalam norma-norma pemerintahan dan juridis. Tim sukses mestinya bisa membantu kandidat yang diantarkannya sebagai kepala daerah untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya.

Maka, baik Masdar maupun Amin Said, kini ditantang untuk bisa mengelola dan mengendalikan tim suksesnya pasca pilkada. Jika hal ini tidak bisa diwujdukan, tim sukses bakal menjadi benalu yang sedikit demi sedikit bisa membunuh karir politik sang bupati. (*)

Apa yang Dicari Pak Djalal?

SETIAP pemimpin politik memiliki gaya komunikasi politik yang berbeda. Soekarno, presiden pertama RI, memiliki gaya komunikasi yang tegas dan blak-blakan. Sedangkan Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), memakai gaya komunikasi yang santun, tertata, dan –ini yang paling populer— acap dinilai tebar pesona.

Tebar pesona! Istilah ini dipopulerkan pengamat dan politisi ketika mengkritik gaya komunikasi politik SBY. Banyak kebijakan SBY yang dinilai merugikan rakyat, tapi dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan tak merugikan rakyat.

Lantas, bagaimana dengan gaya komunikasi politik bupati kita, bupatinya rakyat Jember, Muhammad Zainal Abidin Djalal? Saya mencatat satu hal saja. Yakni, maraknya gambar Pak Djalal dalam berbagai baliho dan spanduk program-program Pemkab Jember.

Dalam berbagai baliho yang dibuat pemkab, mulai dari program pendidikan, pariwisata, lingkungan hidup, ekonomi, dan sebagainya, selalu disertai gambar Pak Djalal. Gambarnya pun bervariasi dengan segala pose dan mimik.

Ada gambar Pak Djalal yang terlihat sangat serius. Ada pula yang tengah tersenyum. Pernah pula gambar Pak Djalal yang membaur bersama peserta program pemberantasan buta aksara (KF). Dan banyak lagi yang lain. Dengan banyaknya gambar-gambar itu, saya hanya bertanya-tanya, apa yang sedang dicari Pak Djalal?

Pakar public relation Eduard Depari menyatakan, penampilan gambar diri seseorang melalui beragam media, koran, TV, baliho, dan sebagainya, merupakan upaya untuk membangun personal image (citra diri). Setelah personal image terbentuk, maka yang biasa dilakukan berikutnya adalah membangun persepsi dalam benak publik tentang dirinya.

Persepsi yang dibangun tentuanya persepsi positif yang dapat mempengaruhi penilaian publik terhadap pribadi seseorang itu. Misalnya, dari yang dulu tidak simpati, menjadi simpati.
Kaitannya dengan banyaknya gambar Pak Djalal di berbagai baliho dan spanduk, lain maknanya dengan gambar para calon gubernur yang sekarang juga bertebaran di mana-mana. Dengan banyaknya gambar-gambar itu, saya hanya bertanya-tanya, apa yang sedang dicari Pak Djalal?

Saya pernah jalan-jalan ke pelosok Umbulsari. Di desa, gambar Pak Djalal ternyata juga marak. Baliho itu dipasang Dinas Pengairan Jember terkait program irigasi. Pernah pula, saya melihat gambar Pak Djalal di sebuah spanduk yang dipasang sebuah sekolah terkait sosialisasi program pemkab.

Saya terus terang tidak tahu, apakah pemasangan gambar Pak Djalal di baliho milik dinas pengairan, sekolah –dan mungkin di beberapa instansi lainnya— atas inisiatif kepala dinas pengairan, atau kepala sekolah, atau memang diperintahkan oleh Pak Djalal sendiri. Bagi saya itu tidak erlalu penting.

Sebab, kalaupun kepala dinas pengairan atau ada kepala sekolah yang berinisiatif memasang gambar Pak Djalal, tentu sah-sah saja. Bagaimanapun, Pak Djalal adalah pimpinan mereka, pemimpinnya rakyat Jember. Atau, jika memang diperintah Pak Djalal, tentu tidak ada yang aneh. Pimpinan memerintah anak buah bukanlah hal istimewa. Tapi kalau memang ada perintah seperti itu, lantas apa yang sedang dicari Pak Djalal?

Dan yang terbaru, gambar Pak Djalal dan istrinya, Bu Sri Wahyuni, bersama gambar Pak Imam Utomo beserta istri, gubernur Jatim, dalam berbagai baliho dan spanduk Bulan Bhakti Gotong Royong (BBGR), ada dimana-mana. Kali ini, saya tidak perlu bertanya apa yang sedang dicari Pak Djalal dengan menyandingkan gambarnya bersama gambar Pak Imam Utomo.

Dalam sambutan BBGR, Pak Djalal mengaku panas dengan gambar calon-calon gubernur yang bertebaran dimana-mana. Sebab, Pak Djalal merasa, Pak Imam masih gubernur Jatim. Tapi gambarnya kalah banyak dengan gambar calon-calon gubernur.

Tapi, saya malah punya pertanyaan baru dengan pengakuan Pak Djalal itu. Pertanyaan saya, mengapa Pak Djalal harus merasa panas dengan calon-calon gubernur itu? Apa yang sedang dicari Pak Djalal (dengan memasang gambar dirinya bersama Pak Imam)?

Saya terus terang tak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sebab, yang paling tahu jawabannya tentu Pak Djalal sendiri. Bisa jadi, Pak Djalal memang tak sedang mencari apa-apa. Tak ada motf apapun. Karena gambar-gambar dirinya itu dipasang oleh anak buahnya, si konseptor baliho dan spanduk, yang mungkin tak konsultasi dulu dengan dirinya.

Tapi, saya masih punya satu pertanyaan lagi. Kalau memang gambar-gambar Pak Djalal muncul tanpa sepengetahuan dirinya, lantas, apa yang dicari si konseptor baliho dan spanduk itu? Wallahua’lam. (*)