<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364</id><updated>2011-04-21T17:06:02.812-07:00</updated><title type='text'>Mata Pena</title><subtitle type='html'>Mengasah Mata Pena demi Keadilan dan Nurani. Jadilah Penulis Bernurani ...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>18</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-714618658256485405</id><published>2008-09-05T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T20:45:39.286-07:00</updated><title type='text'>Diduga MA-60 Milik Merpati</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH8vfpGTDI/AAAAAAAAABk/k4lboEoxbqE/s1600-h/merpati-logo.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242749334113897522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH8vfpGTDI/AAAAAAAAABk/k4lboEoxbqE/s320/merpati-logo.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Teka-teki jenis pesawat yang sempat terbang rendah di atas Bandara Notohadinegoro, Kamis (3/9), sedikit terjawab. Dinas Perhubungan (Dishub) Jember menduga, pesawat yang masuk ke Jember itu jenis MA-60. “Tapi dari maskapai mana, kami belum bisa memastikan,” kata Kasi Sarana Prasaran Dishub Jember Anas Ma’ruf kepada Erje kemarin (4/9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia mengatakan, pihaknya sudah koordinasi dengan Dishub Jatim. Ternyata, Dishub Jatim juga tak pernah mengeluarkan izin untuk penerbangan ke Jember. “Berarti izinnya dari Dephub. Artinya itu penerbangan antarprovinsi,” ungkap mantan Lurah Sumbersari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, sekitar pukul 08.10, petugas Bandara Notohadinegoro dikejutkan dengan kedatangan sebuah pesawat tak dikenal. Pesawat itu terbang rendah di atas landasan. Pesawat tersebut hanya sekali terbang di atas bandara. Pesawat datang dari utara, lalu terbang rendah di atas landasan, selanjutnya terbang tinggi menuju selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat tersebut berciri-ciri didominasi warna putih dengan kombinasi warna merah di sekitar badannya. Pesawat itu juga memakai baling-baling di kedua sayapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anas, jika penerbangan pesawat itu tak mendarat di Jember, tidak diperlukan izin ke dishub. Namun, jika penerbangan pesawat itu juga mendarat di Jember, diperlukan izin dari Dishub Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, hingga kini pihaknya belum bisa mengidentifikasi asal maskapai pesawat tersebut. “Jenisnya kami duga MA-60. Yang punya pesawat MA-60 itu salah satunya Merpati,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika benar pesawat itu berjenis MA-60, penjelasan Anas tersebut memiliki relevansi dengan penjelasan Bupati Jember M.Z.A. Djalal. Usai mengikuti joy flight Jember – Surabaya PP dengan sejumlah pejabat Pemkab Jember kemarin, bupati mengatakan, pihaknya sudah menjalin nota kesepahaman (MoU) dengan maskapai Merpati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Merpati penjajakan akan masuk ke Jember. MoU-nya sendiri sudah ditandatangani awal Agustus lalu,” ungkap Bupati Djalal. Jika Merpati positif masuk ke Jember, maskapai nasional yang kini fokus pada penerbangan antarkota itu akan menggunakan pesawat buatan Cina. “Merpati memakai pesawat buatan Cina kapasitas sekitar 60 orang. Lebih besar dari yang sekarang,” sambung bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi yang dihimpun Erje, MA-60 merupakan pesawat buatan pabrik pesawat Man di Provinsi Shaanxi (China Aviation Industry Corporation). Pesawat bermesin turbojet propeller dengan dua mesin Pratt &amp;amp; Whitney (PW 127) buatan Kanada itu berkapasitas 52 – 60 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bupati Djalal menjelaskan, sebenarnya sekitar dua bulan lalu ada dua maskapai yang menyatakan berminat masuk ke Jember. Yaitu, Merpati dan Tri MG yang akhirnya lebih dulu beroperasi di Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dengan Merpati sudah ada MoU, dia menyatakan, hal itu belum ditindaklanjuti dengan penandatanganan kerjasama. Sebab, pihaknya masih akan melihat kemampuan APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, respons pasar di Jember dan sekitarnya juga perlu dilihat. “Kalau ternyata bagus dan ramai, kapasitas akan kita naikkan dengan menggunakan pesawat yang lebih besar,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sebagai bentuk promosi, Bupati Djalal dan Wabup Kusen Andalas beserta sejumlah pejabat Pemkab Jember melakukan joy flight dari Jember – Surabaya PP. Bupati Djalal bersama sejumlah kepala dinas dan kabag terbang menggunakan penerbangan pertama. Sedangkan Wabup beserta sejumlah kepala dinas dan kabag mendapat giliran menggunakan penerbangan kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Bupati Djalal, dia bersama rombongan pejabat Pemkab Jember sengaja ingin merasakan penerbangan dengan pesawat Tri MG dari Jember ke Surabaya PP. “Ini sekaligus promosi bahwa sekarang pergi ke Surabaya sangat cepat. Masyarakat juga tidak perlu takut. Bupatine ae wani (bupatinya saja berani, Red),” papar bupati usai mendarat kembali di Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana rasanya penerbangan Jember – Surabaya PP? “Sangat enak sekali. Pesawat terbang di ketinggian 8.500 kaki. Jadi tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Melihat ke bawah, masih bisa melihat rumah-rumah dan jalan-jalanm” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, lanjut dia, rute penerbangan Jember – Surabaya PP juga bisa digunakan sebagai salah satu sarana rekreasi udara. “Karena dari udara kita mendapat bonus untuk bisa melihat puncak Gunung Semeru dan Bromo. Dari udara terlihat jelas letusan Semeru di atas awan. Indah sekali,” terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepekan penerbangan Jember – Surabaya PP dibuka, menurut bupati, ada dua hal yang mendesak untuk dibenahi. Yakni, promosi yang masih perlu diperluas, tak hanya di Jember tetapi juga di Surabaya. Bahkan, jika perlu hingga ke Jakarta. Hal lain yang perlu segera dibanahi pula adalah kemudahan calon penumpang untuk mendapatkan tiket. (har)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-714618658256485405?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/714618658256485405/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=714618658256485405' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/714618658256485405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/714618658256485405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/diduga-ma-60-milik-merpati.html' title='Diduga MA-60 Milik Merpati'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH8vfpGTDI/AAAAAAAAABk/k4lboEoxbqE/s72-c/merpati-logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-2790037691866410676</id><published>2008-09-05T20:35:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T20:40:56.721-07:00</updated><title type='text'>Dishub Kebobolan Pesawat Tak Dikenal</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH6_nDwx3I/AAAAAAAAABc/-M9VrReLHDo/s1600-h/MA-60.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242747411959433074" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH6_nDwx3I/AAAAAAAAABc/-M9VrReLHDo/s320/MA-60.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Petugas Bandara Notohadinegoro dikejutkan dengan kedatangan pesawat tak dikenal Rabu  (3/9). Pesawat yang belum jelas identitasnya itu sempat terbang rendah di atas landasan pacu (run way) Bandara Notohadinegoro, Wirowongso, Ajung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sigit Pramono, staf bandara, dia bersama empat orang rekan lainnya kebagian piket pagi. Di bandara pagi itu juga ada sejumlah pekerja pembangunan taxi way dan apron. “Sekitar pukul 08.10, saya mendengar suara pesawat. Keras sekali, seperti ada di sekitar bandara,” katanya saat ditemui Erje di bandara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bersama beberapa rekan yang saat itu piket langsung berlari ke arah belakang terminal kedatangan. “Ternyata ada pesawat terbang rendah di atas landasan. Pesawat itu memang tak sampai mendarat,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan pesawat itu benar-benar mengejutkan staf bandara. Karena kemarin merupakan hari libur penerbangan ke Jember. “ATC (air traffic control, pengawas lalu lintas udara, Red) tutup. Yang ada hanya Pak Sukamto (staf Dishub Jatim yang diperbantukan ke bandara, Red),” tukasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukamto sendiri, menurut dia, tidak tahu jika ada pesawat yang bakal terbang rendah di bandara. “Kalau melihat pesawat itu terbang rendah di atas landasan, sepertinya sedang melihat landasan bandara,” terkanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat itu, lanjut dia, hanya sekali terbang di atas bandara. Pesawat datang dari utara, lalu terbang rendah di atas landasan, selanjutnya terbang tinggi menuju selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sigit mengaku tak tahu persis jenis pesawat itu berikut maskapainya. Pesawat tersebut berciri-ciri didominasi warna putih dengan kombinasi warna merah di sekitar badannya. “Pesawatnya memakai baling-baling di kedua sayapnya. Seperti jenis Fokker,” ungkapnya seraya tak memperhatikan apakah di ekor pesawat ada logi maskapai atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, kedatangan pesawat yang identitasnya sejauh ini belum dikenal itu bersamaan dengan hari libur operasinya pesawat Tri MG yang disewa Pemkab Jember. “Sepertinya mereka tahu kalau penerbangan ke Jember hari ini libur. Makanya mereka berani ke Jember,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantan staf Terminal Pakusari ini mengaku tidak tahu apakah kedatangan pesawat tersebut sudah seizin atau berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Jember atau tidak. Yang jelas, belum lama pesawat pergi, telepon bandara berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara di ujung telepon, sambung dia, menanyakan apakah pesawat mendarat di bandara atau tidak. “Saya tidak tahu siapa yang telepon. Tapi kalau melihat langsung merespon ketika tahu ada pesawat masuk Jember, mungkin orang dishub. Saya belum sempat tanya siapa peneleponnya,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadishub Jember Sunarsono belum berhasil dikonfirmasi terkait masuknya pesawat yang belum bisa diidentifikasi identitasnya itu. Hanya, Kasi Sarana Prasarana Dishub Jember Anas Ma’ruf mengakui, kemarin pagi ada pesawat yang terbang rendah di Bandara Notohadinegoro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kami belum tahu itu pesawat apa dan dari maskapai mana. Kami masih mencoba mencari tahu identitasnya,” jelas Anas yang selama ini banyak terlibat dalam mempersiapkan penerbangan ke Jember ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pihaknya masih akan koordinasi dengan Dishub Jatim. “Barangkali ada izin dari Dishub Jatim untuk masuk Jember. Yang jelas tidak ada izin yang kami keluarkan untuk penerbangan lain untuk masuk Jember hari ini (kemarin, Red),” ungkapnya. (har)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-2790037691866410676?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/2790037691866410676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=2790037691866410676' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2790037691866410676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2790037691866410676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/dishub-kebobolan-pesawat-tak-dikenal.html' title='Dishub Kebobolan Pesawat Tak Dikenal'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMH6_nDwx3I/AAAAAAAAABc/-M9VrReLHDo/s72-c/MA-60.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-7714475307610718189</id><published>2008-09-05T05:11:00.000-07:00</published><updated>2008-09-05T05:15:35.940-07:00</updated><title type='text'>Penerbangan Jember dan Inspirasi AirAsia</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMEie0b93PI/AAAAAAAAABU/u-KKvqyZ02w/s1600-h/cover+air+asia.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5242509354103332082" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMEie0b93PI/AAAAAAAAABU/u-KKvqyZ02w/s320/cover+air+asia.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;PADA Asia Pacific Media Forum 2008 di Bali, Chief Executive Officer (CEO) AirAsia Tony Fernandez berkesempatan memberi paparan bagaimana maskapai low cost carrier (LCC, penerbangan berbiaya murah) ini membangun bisnisnya. Di hari pertama operasinya, AirAsia hanya bermodal dua pesawat dan harus menanggung beban utang hingga 40 juta Ringgit Malaysia (RM). Tapi kini AirAsia masuk dalam jajaran 50 Most Innovative Companies in The World versi majalah Fast Company.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang berlatar belakang finance, Tony memiliki kekuatan dalam pengelolaan keuangan, yang menjadi pilar penting dalam bisnis LCC. Lebih dari itu, menurut dia, seorang CEO amat penting menjadi marketing driven company. Sehingga, AirAsia sangat serius membangun brand, termasuk co-branding dengan Manchester United dan F1 Williams. Termasuk membangun public relation yang baik dan terbuka dengan media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tony juga mengungkapan, inovasi merupakan hal penting dalam segala lini bisnisnya. Misalnya, AirAsia berinovasi membuka rute-rute menuju kota yang jarang diterbangi, seperi Bandung – Kuala Lumpur, Solo – Kuala Lumpur, dan sebagainya. Tentu saja inovasi itu merupakan kombinasi yang pas antara kalkulasi bisnis dan keberanian seorang CEO dalam mengambil keputusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inovasi lain yang dibangun adalah keberanian menggunakan internet sebagai satu-satunya channel penjualan tiket, sebelum akhirnya melebar ke channel-channel lain. Tapi hingga kini internet tetap menyumbang kontribusi besar dalam penjualan tiket yang mencapai 70 – 80 persen dari pendapatan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber daya manusia (human resource) juga menjadi perhatian AirAsia. Tony menyebut “Sky is The Limit” untuk karir pegawainya. Bagaimana di AirAsia muncul kisah porter menjadi pilot setelah dia menunjukkan minatnya, kemudian disekolahkan, dan lulus tes. Juga ada pramugari jadi pilot, kemudian menang Miss Thailand, dan balik menjadi pilot lagi. Dan banyak kisah karir lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak hal lain yang bisa dipetik dari uraian Tony. Namun ada satu ungkapan yang menarik untuk direnungkan. “If you are small, don't be afraid!” Dengan motto now everyone can be fly (kini setiap orang bisa terbang), membuat AirAsia menjadi salah satu maskapai LCC yang disegani di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di atas bukan hendak membandingkan apa yang terjadi di Bandara Notohadinegoro dalam lima hari terakhir dengan kondisi AirAsia. Sungguh tak elok jika membandingkan rintisan penerbangan Surabaya – Jember PP dengan AirAsia yang kini menjadi salah satu imperium bisnis LCC terbesar di Asia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, Pemkab Jember tak akan selamanya mengelola penerbangan di Jember seperti sekarang. Keberanian bupati menyewa pesawat Tri MG adalah hal yang membuat saya harus angkat topi.&lt;br /&gt;Tapi, selama belum ada maskapai bersertifikat AOC 121 (semacam Garuda, dan sebagainya) yang masuk ke Jember, untuk sementara penerbangan Jember akan dilayani maskapai bersertifikat AOC 135 (pesawat carter atau sewa). Artinya, sementara pula Pemkab Jember harus menyewa pesawat dan mengelola bisnis penerbangan ini secara mandiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya ingin mengajak kita semua merenung bahwa ada inspirasi besar dari AirAsia untuk mengembangkan rute penerbangan di Jember. Semuanya dimulai dari yang kecil. “If you are small, don't be afraid!” Kata kunci dari inspirasi AirAsia adalah kepemimpinan, manajemen, pemasaran, inovasi, dan sumber daya manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kepemimpinan. Di tahun pertamanya, AirAsia sudah mampu membukukan laba, dari sebelumnya beroperasi dengan beban utang RM 40 juta. Semua tak lepas dari sentuhan tangan dingin seorang Tony Fernandez.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya meyakini, pengelolaan bisnis penerbangan di Jember akan berkembang jika “dipiloti” oleh orang yang tepat. Bisnis penerbangan membutuhkan tangan profesional. Tanpa mengurangi rasa hormat, suatu hal yang sulit dicerna jika pengelola penerbangan di Jember dilakukan oleh bupati atau kepala dinas perhubungan (kadishub) yang berlatar belakang pejabat politik dan birokrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan pada persoalan mampu atau tak mampu. Namun, lebih kepada persoalan profesionalisme. Tugas yang diemban bupati dan kadishub tak hanya mengelola penerbangan, tapi bertumpuk-tumpuk tugas pelayanan publik yang lain. Sehingga tak salah jika rintisan bisnis penerbangan di Jember ini dikelola oleh yang mengerti bisnis penerbangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahal dan terlalu muluk? Ini bukan hal muluk. Investasi rakyat Jember di bidang penerbangan sudah kelewat besar. Untuk membangun bandara saja, uang rakyat Jember terkuras sekitar Rp 30 miliar. Untuk sewa pesawat, di tiga bulan pertama ini, uang BUMD sudah terkuras Rp 4 miliar lebih. Karena investasi yang kelewat mahal bagi Jember itu harus dibayar dengan pengelolaan yang profesional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini memang bukan bab membicarakan untung atau rugi. Namun, bab yang sedang kita bicarakan adalah bagaimana membangun kepercayaan pasar (baca: konsumen pesawat) dan menarik maskapai lain agar datang ke Jember tanpa harus menguras APBD. Kepercayaan dan tarikan investasi rasanya sulit terjadi jika rintisan penerbangan awal ini tak menunjukkan prospek dan perkembangan berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, manajemen. Organisasi pengelola penerbangan harus ditata secara matang. Saya pikir mustahil mempertahankan organisasi pengelola penerbangan di Jember seperti sekarang ini untuk selamanya. Perusahaan Daerah Perkebunan (PDP) selaku pemodal, sedangkan pengelola lapangan adalah dishub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbangan bukan core business PDP. BUMD sendiri memiliki sejumlah rambu yang harus ditaati sesuai UU BUMD. Sedangkan bidang tugas dishub juga sangat banyak, bukan hanya masalah penerbangan. Maka, sejak sekarang harus dirintis organisasi tersendiri, misalnya BUMD baru di bidang penerbangan. Untuk ke arah sana, pemkab bisa membangun komunikasi dengan para ahli dan dewan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, pemasaran. Mengapa jumlah penumpang penerbangan di Jember pekan pertama masih sepi? Salah satu persoalannya adalah pemasaran. Banyak orang –terutama luar Jember yang hendak ke Jember—tidak tahu bahwa kini ada penerbangan ke Kota Suwar-Suwir. Di Surabaya pun amat kesulitan mengakses informasi bagaimana untuk menggunakan jasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai jasa baru di Jember, tak bisa hanya mengandalkan penyebaran brosur dan pemasangan spanduk saja. Perlu terobosan promosi dan pelayanan yang memudahkan calon penumpang menggunakan jasa ini. Tak sekadar mengandalkan loket di bandara dan PDP nantinya, namun harus ada pula tim marketing yang aktif jemput bola ke calon konsumen potensial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, inovasi. Mulai saat ini pengelola penerbangan di Jember harus mampu merumuskan formulasi inovasi, baik di bidang manajemen, marketing, dan pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelima, sumber daya manusia. Ke depan, pengelola penerbangan di Jember harus memikirkan pengembangan SDM di bidang penerbangan terkait tugas-tugas pelayanan publik. Konsumen penerbangan sangat segmented. Mereka berasal dari kalangan menengah ke atas yang amat menjunjung tinggi kenyaman (comfortable) dalam pelayanan. Kalangan ini tak segan membayar mahal demi kenyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas apa pun kekurangan dalam rintisan penerbangan di Jember, tak bijak kiranya jika di waktu yang amat singkat ini langsung menilai gagal atau berhasil. Bisnis ini merupakan bisnis jangka panjang. Efek lain yang muncul dari pembukaan penerbangan ke Jember juga sangat besar. Prinsipnya, “If you are small, don't be afraid!” (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-7714475307610718189?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/7714475307610718189/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=7714475307610718189' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/7714475307610718189'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/7714475307610718189'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/penerbangan-jember-dan-inspirasi.html' title='Penerbangan Jember dan Inspirasi AirAsia'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SMEie0b93PI/AAAAAAAAABU/u-KKvqyZ02w/s72-c/cover+air+asia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-3521355081361371723</id><published>2008-09-02T20:12:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T20:16:37.488-07:00</updated><title type='text'>Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (2 - Habis)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL4BeHU9iII/AAAAAAAAABM/RaNZgPtzYOk/s1600-h/naik+pesawat+2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241628633180506242" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL4BeHU9iII/AAAAAAAAABM/RaNZgPtzYOk/s320/naik+pesawat+2.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Mirip orang mimpi. Demikian komentar salah seorang rekan wartawan yang mengikuti penerbangan Jember – Surabaya, Jumat (29/8). Perjalanan darat yang biasanya ditempuh 3 – 6 jam, kini cukup ditempuh 30 menit.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;MENGANGKASA bersama pesawat Tri MG memang luar biasa. Bagi yang terbiasa naik pesawat Boeing, perlu adaptasi dulu ketika naik pesawat berkapasitas 18 penumpang ini. Sama-sama mengangkasa, tapi tentu tetap ada bedanya ketika naik pesawat Boeing dengan LET 410.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang belum pernah naik pesawat sama sekali, naik LET 410 cukup menantang. Terutama ketika pesawat harus beradu dengan gumpalan awan. Pesawat pasti tergoncang –meskipun sebenarnya pesawat sebesar Boeing pun pasti tetap berguncang ketika menabrak awan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi jangan dibayangkan guncangan itu sampai membuat kita terpelanting dari tempat duduk pesawat. Tidak! Hanya seperti ketika kita naik bus atau mobil terkena jalan berlubang-lubang. “Seperti naik bus patas Pasuruan,” ujar Dwi Satriya, Avia Karya Manajer Tri MG yang ikut menemani para wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang belum pernah naik pesawat sama sekali, biasanya merasa sedikit pusing. Itu pula yang dialami beberapa wartawan yang ikut penerbangan ini yang sebelumnya belum pernah naik pesawat. Saya sudah siap dengan tantangan itu, sehingga saya tak sampai pusing atau mabuk udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika pesawat tak sedang berada di tengah kepungan awan, laju pesawat LET 410 cukup stabil dan nyaman. Seperti halnya ketika naik Boeing. Nyaman dan bisa buat sambil baca koran. Maka, ketika pesawat keluar dari kepungan awan di sekitar Pegunungan Bromo dan Semeru, pesawat yang kami tumpangi ini benar-benar nyaman. Sejuk sekali di dalam kabin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rauwolfie Yudianto, salah seorang penumpang umum yang naik bersama kami, juga mengaku baru kali ini dia naik pesawat kecil. Sebelumnya, pria yang tinggal di Jakarta ini selalu menggunakan Boeing dari Jakarta menuju Surabaya, sebelum ke rumah saudaranya di Jember. “Pada dasarnya saya suka sekali perjalanan dengan pesawat,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenakan kacamata hitam, Yudianto amat menikmati perjalanan 30 menit dari Jember ke Surabaya. Sejak awal, dia juga sudah menyiapkan diri untuk perjalanan pertamanya bersama pesawat kecil. “Tetap ada bedanya naik pesawat besar dengan kecil, seperti guncangannya, dan sebagainya,” ungkap pria yang mengaku tak kapok naik pesawat LET 410 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia sendiri mendukung pengoperasian pesawat dari Jember – Surabaya PP. Sejatinya dia hendak pulang ke Jakarta pada Kamis. Namun, begitu membaca koran bahwa pesawat Jember – Surabaya akan dioperasikan, dia menunda keberangkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika di koran ada berita tiket dijual di loket Bandara Notohadinegoro dan PDP, dia sempat ke kantor PDP. Ternyata, saat itu tiket belum dijual di PDP. Sampai akhirnya dia membaca koran bahwa Jumat tiket sudah dijual dan pesawat sudah dioperasikan. “Akhirnya saya mencoba naik pesawat ini,” paparnya yang saat itu telah mengantongi tiket Air Asia dari Bandara Juanda ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pesawat kami landing di Juanda, Dwi meminta kami tak perlu ke terminal penumpang di Juanda. “Pesawat hanya berhenti 20 menit untuk isi avtur, checking, dan berangkat lagi ke Jember,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa, kami cukup puas istirahat di apron jalur 22, tempat pesawat Tri MG parkir. Kami hanya bisa berteduh dari sengatan matahari di bawah bentang sayap pesawat. Hilir mudik berbagai pesawat, datang dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah tangki Pertamina pengangkut avtur mengisi tangki pesawat. Petugas teknis Tri MG juga melakukan pengecekan sejumlah peralatan pesawat. Ini semua untuk memastikan pesawat benar-benar ready dan laik jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami baru menjejakkan kaki di Juanda, tiga orang reporter TV menghampiri kami. Mereka berasal dari Arek TV, sebuah televisi lokal Surabaya. Mereka Heru Sukoco (kameraman), Sevira Ratri, dan Maya Libri (keduanya reporter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ternyata Angkasa Pura tidak tahu kalau hari ini dimulai penerbangan regular Surabaya – Jember, Pak,” ujar Maya kepada Kadishub Jember Sunarsono setelah memperkenalkan diri. Mereka mengetahui pengoperasian penerbanan Jember – Surabaya setelah membaca koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah orang diwawancarai mereka. Mulai dari Sunarsono hingga Manajer Distrik Tri MG Lukman Hakim. “Sebenarnya tadi banyak juga penumpang di terminal kedatangan yang menanyakan penerbangan Surabaya ke Jember,” ungkap Maya kepada Sunarsono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan wartawan menawarkan kepada mereka untuk ikut terbang ke Jember. Toh, pesawat masih akan kembali ke Surabaya. Tadinya, Vira –panggilan Savira Ratri—menolak. Alasannya, deadline TV yang baru menjangkau Gerbang Kertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan) itu pukul 15.00. Sementara berita penerbangan Jember itu harus disiarkan malam harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekan-rekan masih membujuk. “Kalau ada ceweknya kan jadi semangat,” ujar salah seorang wartawan dari Jember. Penerbangan kami dari Jember ke Surabaya memang tak ada satu pun penumpang cewek. Biasalah, penumpang cowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, setelah dibujuk rekan-rekan, mereka tertarik. Akhirnya mereka meminta izin kepada produsernya untuk ke Jember. Ternyata, diizinkan. Jadilah penerbangan Surabaya – Jember ada tambahan penumpang tiga orang wartawan dan seorang pramugari Tri MG. Di pesawat itu kini ada dua penumpang cewek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 13.30, mesin pesawat dinyalakan pilot. Sekitar pukul 13.47, pesawat telah take off dari Juanda. Setelah meninggalkan landasan pacu, pesawat terbang di atas hamparan tambak di pesisir Sidoarjo. Selanjutnya pesawat mengangkasa di atas Selat Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buih putih dari bekas baling-baling perahu nelayan meninggalkan bekas, seakan membelah lautan. Puluhan kerambah ikan milik nelayan yang mirip noktah, juga menambah indah panorama lautan di bawah kami. Pesawat kian tinggi, mengangkasa menuju Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca benar-benar sangat bersahabat. Tak ada awan selama sekitar 20 menit penerbangan. Rasanya penerbangan Surabaya – Jember terasa lebih nyaman daripada saat kami berangkat. Saat kami bisa menengok puncak Gunung Semeru dari sisi kanan pesawat, laju pesawat stabil. Tak berguncang seperti saat menabrak awan. Pesawat hanya sempat menembus kepungan awan, yang saya perkirakan itu berada di sekitar Pegunungan Argopuro. Tapi itu hanya skeitar dua menit. Setelah itu cuaca clear.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maya pun sempat on cam dua kali di atas kabin pesawat. Yakni, ketika beberapa menit pesawat mengangkasa. Dan beberapa menit sebelum pesawat mendarat di Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, tak lama kemudian, saya hafal benar saat itu pesawat berjalan di atas Kecamatan Bangsalsari. Saya ingat benar beberapa komplek gudang tembakau di sekitar Desa Petung dan Desa Pecoro, Rambipuji. Rel kereta membelah jalan raya di Desa Pecoro itu yang membuat saya tahu bahwa kami sudah tiba di angkasa Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya pesawat seperti terbang ke arah tenggara. Dan benar, pesawat overhead (terbang memutar). Kami sempat mengelilingi Bandara Notohadinegoro dari sisi barat, lalu ke selatan, dan ke timur. Saat pesawat di timur bandara itu sempat ada gerimis. “Tadinya mau langsung masuk ke utara. Tapi weather-nya gelap,” ujar pilot Wahyudi Kurniawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pesawat berputar ke arah barat di utara bandara, saya baru tahu tentang check point, seperti yang diceritakan pilot Bambang Ontoseno. Dia pernah cerita, untuk memutar pesawat ke arah landasan pacu Bandara Notohadinegoro, dia menggunakan pengamatan visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Check point adalah semacam penanda bagi pilot untuk mengarahkan pesawat menuju landasan pacu. Dan check point itu berupa menara masjid. Tadinya saya mengira check point itu menara Masjid Jamik Al Baitul Amien. Ternyata, menara yang dimaksud Bambang adalah menara masjid di Desa Wirowongso, terletak di tikungan terakhir sebelum belok ke bandara, kalau kita berangkat dari Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moncong pesawat pun sejajar dengan landasan pacu. Pesawat kian terbang rendah. Saya sempat mengintip kabin pilot. Asyik juga ternyata melihat pemandangan dari kabin pilot. Sekitar pukul 14.20, roda pesawat telah menjejak di landasan pacu Bandara Notohadinegoro. Tepuk tangan membahana dari semua penumpang di kabin pesawat. Kami semua selamat. Perjalanan Jember – Surabaya PP begitu mengesankan. (*)&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Foto by Heru Putranto&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-3521355081361371723?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/3521355081361371723/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=3521355081361371723' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/3521355081361371723'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/3521355081361371723'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/pengalaman-naik-pesawat-jember-surabaya_02.html' title='Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (2 - Habis)'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL4BeHU9iII/AAAAAAAAABM/RaNZgPtzYOk/s72-c/naik+pesawat+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-2055640899703102509</id><published>2008-09-02T20:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T20:10:39.876-07:00</updated><title type='text'>Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL3_5BCXBqI/AAAAAAAAABE/sfnbqHAFM68/s1600-h/naik+pesawat.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5241626896325084834" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL3_5BCXBqI/AAAAAAAAABE/sfnbqHAFM68/s320/naik+pesawat.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Banyak orang Jember yang berpengalaman naik pesawat turbo jet milik maskapai penerbangan nasional. Tapi, mungkin belum banyak orang Jember yang berpengalaman naik pesawat LET 410 milik Tri MG yang mulai kemarin hingga tiga bulan ke depan menerbangi rute Surabaya – Jember PP. Juimat 29 Agustus lalu aku berkesampatan menjajal penerbangan Jember – Surabaya PP dengan pesawat buatan Ceko itu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;KEPALA Dinas Perhubungan (Kadishub) Jember Sunarsono sejak beberapa hari terakhir sangat sibuk. Selain menyiapkan penerbangan regular ke Jember, dia juga harus putar otak mencari salah satu cara untuk mempromosikan penerbangan regular Surabaya – Jember. Akhirnya, ditemukanlah salah satu cara yang dianggapnya sangat efektif. Yakni, mengajak wartawan untuk terbang bersama Jember – Surabaya PP dengan pesawat LET 410.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika sejumlah wartawan meliput penerbangan regular pertama di Jember kemarin, dia mengajak para wartawan untuk menjajal penerbangan rute bersejarah bagi Jember itu. Saya pun langsung menyambar tawaran itu. Bagi saya, tak mungkin saya bisa membuat laporan perjalanan penerbangan Jember – Surabaya PP kalah hanya mengandalkan pemaparan penumpang lain. Saya harus merasakannya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tawaran ini saya teruskan ke Heru Putranto, rekan saya sekantor yang bertugas sebagai fotografer, Heru langsung mengiyakan. Selain saya dan Heru, ada beberapa wartawan lain yang mengikuti penerbangan perdana ini. Yaitu, M. Dawud (Prosalina FM), Oryza Ardyansah (beritajatim.com), Hamka (JTV Jember), dan Badrus (fotografer Antara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu membeli tiket, kami langsung boarding ke petugas di terminal keberangkatan. Saya harus menimbang tas ransel saya. Bukan timbangan digital atau barang, melainkan timbangan badan. Berat ransel saya 6 kg. Saya juga harus timbang badan. Jarum timbang menunjukkan angka 76 kg. Ini berat rekor saya seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus timbang badan dan barang? Kata Sugeng Surya W, petugas boarding pass, timbang barang dilakukan untuk mengetahui berat barang setiap penumpang. Maksimal 10 kg/orang. Lebih dari 10 kg, dikenakan charge tambahan biaya bagasi 1 persen per kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan timbang badan diperlukan sebagai data manifes bagi kru pesawat. Karena LET 410 tergolong pesawat kecil, tempat duduk penumpang perlu diatur. Di kabin pesawat LET 410, sebelah kiri terdiri satu lajur berisi enam deret, sedangkan sebalah kanan dua lajur. Dengan mengetahui berat badan penumpang, petugas bisa menempatkan tempat duduk yang tepat agar nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua wartawan yang mengikuti penerbangan itu, telah ditimbang berat badan dan barang. Kadishub Sunarsono juga harus melakukan timbang berat badan. “Tak pandang bulu, semua penumpang harus mengikuti prosedur ini,” ujar Wakijan, konsultan dari PT Aero Express International.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar pukul 11.45, semua penumpang boarding. Termasuk Rouwolfie Yudianto, penumpang umum yang hendak ke Jakarta. Karena tas para wartawan sebatas ransel, masih bisa dibawa ke kabin, tak perlu masuk bagasi. Sedangkan koper Yudianto ditenteng petugas untuk dimasukkan ke dalam bagasi pesawat. “Kita akan memutar di atas kota Jember satu kali,” ujar Dwi Satriya, kru Tri MG.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, lumayan nih,” sahut Sunarsono. “Ayo, yang belum tulis wasiat ke keluarga, kirim SMS dulu,” sambung Sunarsono, berkelakar. Tentu saja ungkapan Sunarsono itu disambut gelak tawa penumpang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di deret kedua sebalah kiri, sejajar dengan sayap. Sehingga dengan jelas saya melihat baling-baling pesawat berputar. Cepat. Rekan saya, Heru Putranto, duduk di deret paling belakang sebalah kanan. Setelah semua penumpang mengenakan sabuk pengaman, kru pesawat mengingatkan kami untuk mematikan ponsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin pesawat menyala. Makin lama kian keras. Setelah sekitar lima menit, pesawat bergerak. Kaca di kabin pilot masih terbuka. Angin berembus semilir. Pesawat melintasi taxi way, lalu bergerak ke utara menuju ujung landasan. Kaca di kabin pilot sudah ditutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung landasan, pesawat masih berhenti sekitar tiga menit. Suara mesin pesawat kian kencang. Sebagai manusia normal, mulut saya merapalkan berbagai doa agar sepanjang perjalanan diberi kelancaran dan keselamatan. Tak berselang lama, pesawat pun melaju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kencang sekali. Sebelum tiba di pertigaan runway dan taxi way, pesawt sudah melayang. Tak sampai semenit kemudian, saya melihat bodi penutup roda yang tadinya terbuka, kini menutup. Ayunan kecil kami rasakan saat pesawat mengangkasa ke arah selatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat jendela. Panorama di bawah sana sungguh indah. Jajaran gunung di sebelah timur berderet kokoh. Entah di atas daerah mana, pesawat miring ke kanan. Pilot memutar pesawat menuju arah timur untuk selanjutnya melayang ke utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di angkasa, bingung pula mengidentifikasi pesawat berada di atas mana. Hanya saja, ketika saya melihat atap GOR Kaliwates yang sangat saya hafal, saya baru bisa memastikan ternyata pesawat berada di sebelah utara double way Jl Gajah Mada. Lama kelamaan pesawat terasa kian meninggi. Pemandangan di bawah sana makin mengecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat kian tinggi, menuju 8.500 kaki (feet). Entah di atas daerah mana, pesawat yang kami tumpangi mulai menembus awan. Guncangan mulai terasa. Bahkan, ada kalanya terasa agak keras. “Setiap pesawat yang menabrak awan pasti berguncang,” ujar Dwi, seakan menjawab kekhawatiran yang menyergap sebagian penumpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri berusaha tenang. Toh, ini bukan pengalaman pertama saya naik pesawat, meskipun sebelumnya yang saya tumpangi sekelas Boeing. Sekitar 15 menit di udara, saya bisa menyaksikan asap Gunung Semeru dari jendela. Asapnya letusannya bagai cendawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, teman-teman dari arah belakang berteriak kalau Heru, rekan saya itu, mabuk udara. Kontan teman-teman tertawa. “Her, itu Semeru yang kamu tunggu-tunggu. Tak difoto?” tanya Dawud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu sejak sebelum naik pesawat sudah “mengancam” saat di udara nanti bakal membidik Semeru dengan kamera Nikon D-200-nya. Heru yang terus-terusan digojlok hanya tersenyum kecut. Tapi, meski dengan kondisi mabuk udara, dia masih menyempatkan membidik Semeru dengan kameranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat menembus awan sekitar lima menit. Meski hanya lima menit, guncangannya cukup lumayan. Oryza, wartawan beritajatim.com, mengeluh sempat mual. Tapi, itu tak berlangsung lama. Setelah lepas dari kepungan awan, cuaca clear alias cerah. Pesawat terbang dengan tenang, nyaris tanpa guncangan. Di bawah sana PLTU Paiton terlihat jelas. Bak noktah-noktah, keramba milik nelayan pesisir Selat Madur terlihat jelas di lautan utara Paiton. Pesawat melayang di atas Selat Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buih bekas baling-baling kapal yang membelah lautan menciptakan garis putih di atas lautan biru. Indah sekali. Selanjutnya, pilot menunrunkan ketinggian pesawat. “Pesawat di ketinggian 6.500 feet,” ungkap Dwi, saya saya tanya ketinggian pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang sekitar lima menit, kota Surabaya sudah tampak. Beberapa gedung jangkung menjulang ke langit. Salah satunya adalah Cito (City Tomorrow), mall di dekat bundaran Waru, Sidoarjo. Tak perlu overhead, pesawat langsung menuju runway Bandara Juanda. Sekitar pukul 12.30, ban pesawat menjejak landasan pacu. (*)&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Foto by Heru Putranto&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-2055640899703102509?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/2055640899703102509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=2055640899703102509' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2055640899703102509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2055640899703102509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/pengalaman-naik-pesawat-jember-surabaya.html' title='Pengalaman Naik Pesawat Jember – Surabaya PP (1)'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SL3_5BCXBqI/AAAAAAAAABE/sfnbqHAFM68/s72-c/naik+pesawat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-5047141308907386656</id><published>2008-09-02T19:55:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T19:56:44.492-07:00</updated><title type='text'>Agar Tim Sukses Tak Jadi Benalu</title><content type='html'>PILKADA Lumajang dan Bondowoso telah selesai dihelat. Di Lumajang, Sjahrazad Masdar dinyatakan sebagai bupati terpilih. Sedangkan di Bondowoso, Amin Said Husni ditetapkan KPU sebagai orang nomor satu di Pemkab Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada salahnya jika saya mengemukakan sebuah isu aktual pasca pilkada. Yakni, tentang tim sukses. Anggaplah catatan pendek ini sebagai early warning atau peringatan dini bagi siapa pun yang menjadi bupati di Lumajang dan Bondowoso.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa pun tahu, setiap calon bupati yang memenangi pilkada, tak lepas dari peran dan perjuangan tim sukses, selain hasil kerja keras sang calon sendiri, tentunya. Tim sukses dibentuk sebagai organ pendukung dan supporting system pemenangan calon tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim sukses dibentuk untuk menggalang suara sebesar-besarnya. Di dalam tim sukses, biasanya sudah ada pembagian peran yang umumnya tak tertulis. Misalnya, ada tim sukses yang tugasnya menggalang dukungan akar rumput, menggalang opini publik, menggalang dana, membangun jaringan dan lobi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah yang duduk di tim sukses? Biasanya, orang dekat dan kepercayaan sang kandidat, atau tokoh parpol yang mengusung calon tersebut. Tim sukses inilah yang biasanya dicatatkan oleh sang kandidat dalam struktur resmi tim kampanye yang didaftarkan ke KPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi tim sukses, bekerja keras memenangkan sang kandidat ibarat petani yang tengah menyemai benih. Jika benih yang disemai mengahasilkan buah yang bagus (baca: sang kandidat menang pilkada), tentu tim sukses berharap bisa melakukan panen raya (menangguk untung dari kemenangan sang kandidat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan yang dimaksud bisa bermakna banyak hal. Bisa berupa duit, jabatan, akses, fasilitas, proyek, dan sampai yang paling sederhana, gengsi. Dengan kemenangan sang kandidat, tim sukses pasti merasa menjadi orang yang paling berjasa. Sehingga dirinya merasa sebagai orang pertama yang harus mendapatkan keuntungan dari naiknya sang kandidat sebagai kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya adalah, bagaimana seorang bupati terpilih harus mengelola tim suksesnya pasca pilkada? Pertanyaan ini selalu muncul pada setiap momen pemilu, bupati/walikota, gubernur, termasuk di pemilihan presiden (pilpres).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang presiden, dengan kewenangan dan kekuasaan yang dimiliki, bisa memberikan kompensasi pada tim suksesnya menduduki jabatan politik tertentu. Misalnya, menteri, juru bicara, staf khusus kepresidenan, dewan pertimbangan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bupati tidak bisa melakukan hal semacam itu. Jabatan kepala dinas di pemerintah daerah bukanlah jabatan politik sebagaimana menteri, melainkan jabatan karir. Tak sembarang orang bisa menjadi kepala dinas, karena ada aturan kepegawaian yang membatasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana cara seorang bupati terpilih “membalas budi” para tim suksesnya? Disinilah kematangan seorang bupati terpilih diuji. Jika pasca pilkada tim sukses tak dikelola dengan baik, bakal menjadi pisau bermata dua yang bisa “membunuh” si empunya pisau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dibalas budi” atau tidak, tim sukses pasti ingin memanen benih yang sudah ditanamnya. Jika bupati terpilih tak bisa mengendalikan tim suksesnya, maka dirinya sendiri yang bakal dikendalikan tim sukses. Dengan predikat tim sukses, mereka bisa bermanuver dengan segala cara untuk “panen.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berpredikat tim sukses, bisa saja mereka mencari kompensasi dengan menggarap proyek-proyek kakap di pemkab. Atau, menjalin bargaining dengan para pejabat agar posisi pejabat tersebut aman, tak dimutasi oleh bupati terpilih. Pendeknya, tim sukses menjadi penggaransi jabatan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebagian kalangan, tim sukses yang seperti ini acap disebut sebagai baperjakat (badan pertimbangan jabatan dan kepangkatan) swasta atau baperjakat bayangan. Perannya bisa lebih besar daripada ketua baperjakat aslinya, yaitu sekda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pejabat pun bakal mengkeret jika didatangi tim sukses yang minta kompensasi segala macam, mulai dari proyek hingga “upeti”, baik dengan cara halus maupun (barangkali) kasar. Bagi para pejabat, tim sukses tak ubahnya tangan kanan bupati yang bisa menentukan nasib seorang pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tim sukses kerjanya hanya mencari proyek, menarik “upeti” dari pejabat, atau menjadi baperjakat swasta, maka tim sukses seperti ini tak ubahnya musuh dalam selimut bagi bupati terpilih. Tim sukses semacam ini lebih pantas disebut sebagai genta kematian bagi seorang kepala daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai, keberadaan tim sukses pasca pilkada justru menjadi salah satu anasir penghambat roda pemerintahan. Birokrasi telah memiliki sistem yang dibingkai dalam norma-norma pemerintahan dan juridis. Tim sukses mestinya bisa membantu kandidat yang diantarkannya sebagai kepala daerah untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, baik Masdar maupun Amin Said, kini ditantang untuk bisa mengelola dan mengendalikan tim suksesnya pasca pilkada. Jika hal ini tidak bisa diwujdukan, tim sukses bakal menjadi benalu yang sedikit demi sedikit bisa membunuh karir politik sang bupati. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-5047141308907386656?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/5047141308907386656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=5047141308907386656' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/5047141308907386656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/5047141308907386656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/agar-tim-sukses-tak-jadi-benalu.html' title='Agar Tim Sukses Tak Jadi Benalu'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-6569474612089098780</id><published>2008-09-02T19:49:00.000-07:00</published><updated>2008-09-02T19:54:23.470-07:00</updated><title type='text'>Apa yang Dicari Pak Djalal?</title><content type='html'>SETIAP pemimpin politik memiliki gaya komunikasi politik yang berbeda. Soekarno, presiden pertama RI, memiliki gaya komunikasi yang tegas dan blak-blakan. Sedangkan Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), memakai gaya komunikasi yang santun, tertata, dan –ini yang paling populer— acap dinilai tebar pesona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebar pesona! Istilah ini dipopulerkan pengamat dan politisi ketika mengkritik gaya komunikasi politik SBY. Banyak kebijakan SBY yang dinilai merugikan rakyat, tapi dikemas sedemikian rupa sehingga terkesan tak merugikan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana dengan gaya komunikasi politik bupati kita, bupatinya rakyat Jember, Muhammad Zainal Abidin Djalal? Saya mencatat satu hal saja. Yakni, maraknya gambar Pak Djalal dalam berbagai baliho dan spanduk program-program Pemkab Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam berbagai baliho yang dibuat pemkab, mulai dari program pendidikan, pariwisata, lingkungan hidup, ekonomi, dan sebagainya, selalu disertai gambar Pak Djalal. Gambarnya pun bervariasi dengan segala pose dan mimik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada gambar Pak Djalal yang terlihat sangat serius. Ada pula yang tengah tersenyum. Pernah pula gambar Pak Djalal yang membaur bersama peserta program pemberantasan buta aksara (KF). Dan banyak lagi yang lain. Dengan banyaknya gambar-gambar itu, saya hanya bertanya-tanya, apa yang sedang dicari Pak Djalal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakar public relation Eduard Depari menyatakan, penampilan gambar diri seseorang melalui beragam media, koran, TV, baliho, dan sebagainya, merupakan upaya untuk membangun personal image (citra diri). Setelah personal image terbentuk, maka yang biasa dilakukan berikutnya adalah membangun persepsi dalam benak publik tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persepsi yang dibangun tentuanya persepsi positif yang dapat mempengaruhi penilaian publik terhadap pribadi seseorang itu. Misalnya, dari yang dulu tidak simpati, menjadi simpati.&lt;br /&gt;Kaitannya dengan banyaknya gambar Pak Djalal di berbagai baliho dan spanduk, lain maknanya dengan gambar para calon gubernur yang sekarang juga bertebaran di mana-mana. Dengan banyaknya gambar-gambar itu, saya hanya bertanya-tanya, apa yang sedang dicari Pak Djalal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah jalan-jalan ke pelosok Umbulsari. Di desa, gambar Pak Djalal ternyata juga marak. Baliho itu dipasang Dinas Pengairan Jember terkait program irigasi. Pernah pula, saya melihat gambar Pak Djalal di sebuah spanduk yang dipasang sebuah sekolah terkait sosialisasi program pemkab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang tidak tahu, apakah pemasangan gambar Pak Djalal di baliho milik dinas pengairan, sekolah –dan mungkin di beberapa instansi lainnya— atas inisiatif kepala dinas pengairan, atau kepala sekolah, atau memang diperintahkan oleh Pak Djalal sendiri. Bagi saya itu tidak erlalu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, kalaupun kepala dinas pengairan atau ada kepala sekolah yang berinisiatif memasang gambar Pak Djalal, tentu sah-sah saja. Bagaimanapun, Pak Djalal adalah pimpinan mereka, pemimpinnya rakyat Jember. Atau, jika memang diperintah Pak Djalal, tentu tidak ada yang aneh. Pimpinan memerintah anak buah bukanlah hal istimewa. Tapi kalau memang ada perintah seperti itu, lantas apa yang sedang dicari Pak Djalal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang terbaru, gambar Pak Djalal dan istrinya, Bu Sri Wahyuni, bersama gambar Pak Imam Utomo beserta istri, gubernur Jatim, dalam berbagai baliho dan spanduk Bulan Bhakti Gotong Royong (BBGR), ada dimana-mana. Kali ini, saya tidak perlu bertanya apa yang sedang dicari Pak Djalal dengan menyandingkan gambarnya bersama gambar Pak Imam Utomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutan BBGR, Pak Djalal mengaku panas dengan gambar calon-calon gubernur yang bertebaran dimana-mana. Sebab, Pak Djalal merasa, Pak Imam masih gubernur Jatim. Tapi gambarnya kalah banyak dengan gambar calon-calon gubernur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya malah punya pertanyaan baru dengan pengakuan Pak Djalal itu. Pertanyaan saya, mengapa Pak Djalal harus merasa panas dengan calon-calon gubernur itu? Apa yang sedang dicari Pak Djalal (dengan memasang gambar dirinya bersama Pak Imam)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus terang tak tahu jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Sebab, yang paling tahu jawabannya tentu Pak Djalal sendiri. Bisa jadi, Pak Djalal memang tak sedang mencari apa-apa. Tak ada motf apapun. Karena gambar-gambar dirinya itu dipasang oleh anak buahnya, si konseptor baliho dan spanduk, yang mungkin tak konsultasi dulu dengan dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya masih punya satu pertanyaan lagi. Kalau memang gambar-gambar Pak Djalal muncul tanpa sepengetahuan dirinya, lantas, apa yang dicari si konseptor baliho dan spanduk itu? Wallahua’lam. (*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-6569474612089098780?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/6569474612089098780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=6569474612089098780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/6569474612089098780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/6569474612089098780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/09/apa-yang-dicari-pak-djalal.html' title='Apa yang Dicari Pak Djalal?'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-6088127529564872604</id><published>2008-05-07T04:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T00:58:31.231-08:00</updated><title type='text'>Si Jelita di Tengah Arena</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGQvOdNYlI/AAAAAAAAAA8/ZdFgX4wRtFw/s1600-h/kirim-happy+salma+(1).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197594585971122770" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGQvOdNYlI/AAAAAAAAAA8/ZdFgX4wRtFw/s320/kirim-happy+salma+(1).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Panitia dan Sampoerna Hijau sebagai sponsor utama Voli Proliga 2008 tak hanya menyiapkan acara spesial selama pertandingan berlangsung, baik di luar maupun di dalam lapangan. Saat selebrasi penutupan dan penyerahan hadiah, panitia memberikan kemasan yang cukup rame.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;KEMERIAHAN partai puncak Sampoerna Hijau Voli Proliga 2008 juga bisa dirasakan saat selebrasi penutupan dan penyerahan hadiah bagi tim-tim jawara. Setelah laga terakhir putra BNI Taplus Jakarta versus Jakarta P2B Sananta, penyerahan hadiah dimulai dari para pemain terbaik putra/putri di beberapa kategori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya dilakukan penyerahan hadiah kepada para finalis proliga. Yang agak spesial, Piala Proliga 2008 disimpan di sebuah replika lemari besi ala zaman Romawi. Empat buah prajurit berpakaian besi ala Romawi menarik dan mengawal piala itu masuk ke tengah lapangan. Acara makin rame karena si jelita Happy Salma, menjadi host acara pamungkas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang paling membedakan dari laga-laga final Proliga yang pernah digeber, tahun ini PBVSI bersama Sampoerna Hijau menabiskan tim putra/putri paling seru. Sebagai tim paling seru putra adalah Bantul Yuso Tomkins dan tim paling seru putri Jakarta Electric PLN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui Veranita Kuspratiwi, media relation manager Sampoerna Indonesia, penetapan tim paling seru ini sempat memancing kontroversial. Sebab, ada sebagian pihak yang mempertanyakan objektifitas penilaian tim paling seru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami menyerahkan sepenuhnya kepada semua wartawan yang meliput Proliga tahun ini,” katanya. Untuk diketahui, panitia telah membagikan 800 angket kepada semua wartawan yang meliput putaran satu, dua, dan final four Poliga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, panitia telah melakukan tabulasi atas penilaian 136 angket wartawan yang masuk ke panitia. “Wartawan sendiri sudah tahu apa-apa yang harus dinilai. Sebab, di angkat yang disebar sudah dijelaskan parameter penilaiannya,” jelas perempuan berbadan subur ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang terjadi, berbagai selebrasi menarik dalam rangkaian laga final Proliga, tak lepas dari tren positif yang muncul selama pelaksanaan Proliga sejak 2004 silam. Vera –sapaan Veranita Kuspratiwi— menyatakan selalu ada kenaikan akumulasi jumlah penonton setiap tahun perhelatan Proliga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan terakhir panitia pelaksana Proliga dalam final four di GOR C’tra Arena Bandung mencapai 60 ribu lebih penonton. Sedangkan laga final lalu disaksikan lebih dari 8 ribu penonton dari kapasitas Istora Gelora Bung Karno sebanyak 10 ribu kursi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jumlah itu belum termasuk penonton yang datang di volley zone. Kami mencatat jumlah pengunjung di volley zone yang dihadirkan di setiap kota rata-rata mencapai 5 ribu orang,” paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghelat Proliga yang di-running dalam waktu 11 pekan di delapan kota, menurut dia, membutuhkan tenaga yang cukup besar. Pihak Sampoerna Hijau sebagai sponsor utama mengerahkan tenaga event organizer (EO) internal tak kurang 32 personel. Ini belum termasuk panita pelaksana lokal di tiap kota yang menjadi tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi panitia yang terlibat dalam acara-acara pendukung di luar pertandungan, seperti di volley zone. “Setiap pertandingan rata-rata dibutuhkan tenaga sekitar 200 orang,” ungkapnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendukung kelancaran Proliga sebagai liga voli profesional, Sampoerna Hijau tak selalu mengandalkan EO internal. Namun, Sampoerna juga menggandeng rekanan EO profesional. Misalnya, dalam putaran final four di Bandung, Sampoerna Hijau dibantu EO Yuk Kita Nari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula untuk promosi. Sampoerna menggandeng Prisma Public Relation sebagai mitra profesional. Prisma bertugas untuk melayani semua kebutuhan wartawan peliput Proliga. Semua kebutuhan wartawan di laga final dicukupi dengan baik. Seperti akomodasi dan transportasi bagi wartawan asal daerah, press room, press conference, dan berbagai support data pertandingan dan tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, kebutuhan kendaraan bagi para wartawan juga disiapkan Prisma dari perusahaan jasa sewa mobil. Lengkap dengan driver yang ramah dan on call di setiap tempat yang disinggahi wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Totalitas perhelatan pamungkas Proliga dilakukan PBVSI dan Sampoerna Hijau untuk menjadikan voli sebagai olahraga favorit di masyarakat. “Jumlah penonton Proliga dari tahun ke tahun naik 30 persen,” ungkap Vera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, tak ada motif lain dari Sampoerna Hijau untuk mendukung voli agar semata-mata prestasi dan pembinaan voli di Indonesia berjalan baik. Dari aspek bisnis, melalui voli Sampoerno Hijau ingin menguatkan branding-nya sebagai produk yang sangat cocok bagi kalangan yang selalu happy, rame, bersahabat, dan selalu menjunjung kebersamaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti dalam berbagai iklan dan reklame Sampoerna Hijau yang selalu heboh, rame, dan kompak. Sesuai dengan slogan Sampoerna Hijau, Nggak Ada Loe Nggak Rame. “Jadi impact langsung ke Sampoerna Hijau tidak ada. Kami hanya ingin orang lebih familiar dengan voli. Voli adalah Sampoerna Hijau dan Sampoerna Hijau adalah voli,” tuturnya. (*) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-6088127529564872604?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/6088127529564872604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=6088127529564872604' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/6088127529564872604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/6088127529564872604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/si-jelita-di-tengah-arena.html' title='Si Jelita di Tengah Arena'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGQvOdNYlI/AAAAAAAAAA8/ZdFgX4wRtFw/s72-c/kirim-happy+salma+(1).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-2902869697296337907</id><published>2008-05-07T04:08:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T00:58:31.358-08:00</updated><title type='text'>Dari Lady Dunk Hingga Velocity</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGORedNYkI/AAAAAAAAAA0/B1ERm6yNKA0/s1600-h/kirim-lady+dunk.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5197591875846758978" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGORedNYkI/AAAAAAAAAA0/B1ERm6yNKA0/s320/kirim-lady+dunk.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Babak pamungkas Sampoerna Hijau Proliga 2008 telah digeber Ahad (4/5) lalu. Partai terakhir yang digelar di Istora Senayan Jakarta itu berlangsung cukup rame.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAMANYA saja partai final, tentu saja pertandingan pamungkas Sampoerna Hijau Proliga 2008 digelar lebih heboh dari biasanya. PP PBVSI bersama Sampoerna Hijau sebagai sponsor utama, mengemas laga puncak Proliga dengan spesial. Untuk mencapai putaran final ini, Proliga telah berjalan selama 11 pekan dengan menyinggahi delapan kota di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan Istora Senayan, panitia bersama sponsor telah menyiapkan volley zone. Sebuah zona berukuran sekitar 25 m x 25 m yang telah disiapkan dengan aneka games berbau voli. Bagi yang berpartisipasi dan bisa memenangkan game-game yang ada, bakal mendapat souvenir menarik dari panitia dan sponsor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, di volley zone ada sebuah game bernama lady dunk. Sebuah permainan yang melibatkan seorang model dan seorang pemain. Seorang model yang semuanya cantik-cantik akan duduk di sebuah tempat yang agak tinggi. Di bawahnya ada sebuah kolam kecil dari plastik berisi air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung tempat duduk si model, ada sebuah penampang vetikal dari besi. Jika penampang itu terkena bola yang di-serve seorang pemain, si model akan kecebur ke dalam air. Untuk melindungi dari laju bola yang nyasar, di depan si model dipasang jaring. Para wartawan yang diundang panitia mendapat kesempatan untuk mencoba permainan ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jatahnya hanya dua kali serve,” ujar Ma'ruf Fauzi, seorang panitia. Namun, ketika beberapa wartawan mencoba, tak ada yang berhasil. Semua serve melenceng. “Memang ini cukup sulit. Jarang sekali yang berhasil,” sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zona itu, ada pula velocity. Berbeda dengan lady dunk, game ini menantang adrenalin setiap pemainnya. Sebab, pemain akan diikat di sebuah papan. Selanjutnya papan itu akan diputar secara manual dengan arah yang acak. “Bagi yang tidak biasa, dijamin hanya setengah menit sudah pusing dan mual,” ujar Ojik -sapaan Ma'ruf Fauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di areal itu juga ada play station (PS) voli. Tak ada yang istimewa dari permainan kecuali hanya sebuah PS permainan voli. Lalu ada pula lomba adu cepat memasang puzzle bertuliskan Sampoerna Hijau Proliga 2008. Sebagai hiburan, panitia juga menyediakan hiburan live band dan dancer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan adanya volley zone itu, Oji menyatakan, cukup ampuh untuk menarik minat penonton. Tak hanya agar nonton pertandingan voli melainkan juga untuk menumbuhkan kecintaan public terhadap voli. “Ada entertain dan edukasi-lah” tandasnya tentang volley zone ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di arena lapangan, panitia dan sponsor juga menyediakan bebagai hiburan yang mengisi waktu sela technical time out. Misalnya, ada hiburan berlogo Sampoerna Hijau dan bola voli dan acrobatic cheers Sampoerna Hijau. Atau, nyanyian merdu mantan vokalis Ratu, Pinkan Mambo. Parai final makin seru dengan dipandu host Happy Salma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Brand Manager Sampoerna Hijau, Suminto Alexander Hermawanto, pihaknya sengaja menyiapkan sajian special dalam partai grand final Proliga. Sebab, tim yang lolos ke grand final adalah tim terbaik yang lolos dalam putaran satu, dua, final four, serta berhasil mengumpulkan poin tertinggi. “Karena itu kami juga menyiapkan sesuatu yang spesial untuk menambah serunya partai puncak Proliga,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertandingan final Proliga cukup menarik perhatian voli mania Jakarta. Terbukti, dari kapasitas total 10 ribu tempat duduk Istora Gelora Bung Karno Senayan, semuanya hampir penuh oleh para suporter tim-tim finalis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tak kalah menarik, panitia kali ini menyediakan fasilitas istimewa pula bagi para wartawan peliput final Proliga. Sebab, panitia menyediakan sebuah press room yang terletak di salah satu ruangan di Istora Senayan Jakarta. Ada enam unit komputer yang disediakan panitia, lengkap dengan internetnya. Aneka kudapan dan air minum pun tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebelah press room, ada sebuah tempat press conference bagi para pelatih dan manajer tim yang usai bertanding. Setiap pertandingan selesai, tanpa dikomando para wartawan cukup menunggu wawancara dengan manajer atau pelatih tim di ruang press conference. Tak sekadar internet, panitia juga menyediakan hot spot bagi wartawan yang membawa laptop. (*) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-2902869697296337907?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/2902869697296337907/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=2902869697296337907' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2902869697296337907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/2902869697296337907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/dari-lady-dunk-hingga-velocity.html' title='Dari Lady Dunk Hingga Velocity'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SCGORedNYkI/AAAAAAAAAA0/B1ERm6yNKA0/s72-c/kirim-lady+dunk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-8463407023357107271</id><published>2008-05-07T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-05-07T04:07:02.714-07:00</updated><title type='text'>Dari Surabaya ke Jakarta</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;Ketika aku memulai membuat tulisan ini dari komputer jinjing yang kubawa dari Jember, aku sudah berada di koridor keberangkatan internasional Bandara Juanda. Sabtu, 3 Mei, pukul 09.17.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di bandara baru Juanda. Bandara yang cukup lapang, kukira. Lebih nyaman daripada bandara lama yang sering kulihat dari luar. Oo… penumpang Garuda GA 311 sudah dipanggil agar masuk ruang tunggu. Terpaksa aku harus mematikan komputerku ini. Pesawat Boeing 737-400 yang akan membawaku ke Jakarta sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pengecekan di ruang tunggu Gate 8, aku kembali menyalakan komputer ini. Aku sengaja duduk di deretan kursi paling selatan yang langsung berhadapan dengan view apron dan run way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pesawat. Bagiku sih tak ada yang istimewa. Hanya saja aku teringat dengan pangeran kecilku, Zaky Fauzan Akbar. Dia begitu mania dengan pesawat. Seandainya dia sekarang ikut aku pergi naik pesawat, dia pasti senang sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, saat aku berangkat ke Jakarta, dia baru saja sembuh dari sakit. Sedangkan pangeran kecilku yang lain, Mufid Hamdan Rauf, saat kutinggal tengah sakit. Semalaman kata istriku tidak bisa tidur. Jadilah istriku begadang semalam suntuk tak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih punya obsesi, suatu saat aku ingin mengajak orang-orang kucintai itu untuk naik pesawat. Terutama dua pangeran kecilku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas sudah memanggil penumpang untuk segera masuk ke pesawat. Terpaksa aku harus mematikan laptop ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 11.16 saat aku menyalakan HP. Beberapa detik lalu pesawat telah mendarat dengan mulus di Soekarno-Hatta. Relatif tak ada yang istimewa dari perjalananku di atas pesawat tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuaca relatif bersahabat. Hanya beberapa kali harus berhadapan dengan mendung. Termasuk ketika pesawat hendak landing tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya, aku duduk bersebalahan dengan Dinda, wartawati sport Malang Pos. Dia juga diundang Sampoerna untuk meliput laga final ini. Ketika aku melanjutkan menulis hari ini, aku sudah duduk di atas kijang Innova yang menjemputku. Tujuan kami sekarang adalah ke Hotel Century Park tempatku menginap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiba di lobi hotel, aku dan Dinda disambut tim Prisma Public Relation. Prisma adalah rekanan Sampoerna Hijau ketika menghelat beberapa even. Salah satunya dalam Proliga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lobi hotel sudah ada Feri, wartawan Pikiran Rakyat dan Lina, wartawan Radar Jogja. Di lobi itu aku harus menunggu sekitar 30 menit sebelum akhirnya check in. Tak lama kemudian, datang Tegar, wartawan Radar Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menaruh barang-barang di kamar 635 di lantai 6, aku salat lebih dulu. Selanjutnya kami lunch bersama Veranita Kuspratiwi, media relations manajer Sampoerna Indonesia di restoran Pulau Dua, Senayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk ke restoran itu, hanya memakan waktu tak kurang 10 menit. Mobil yang kami tumpangi masuk lewat Taman Ria Senayan. Kata Andi, sopir kami, Tamar Ria Senayan sudah lama “almarhum.” Bangunan megah itu seakan menjadi onggokan raksasa di tengah ibu kota. “Sepi, tak ada pengunjug,” Andi menjawab pertanyaanku mengapa Taman Ria Senayan sudah menjadi almarhum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai lunch, kami bersama tim Prisma PR datang ke kantor PP PBVSI di kawasan Senayan. Kami mengurus ID Card khusus peliputan partai final Proliga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Si Dinda bingung mencari warnet untuk mengirim berita ke redaksinya. Sejak di Juanda, dia memang sudah sibuk dengan laptop-nya untuk menulis catatan perjalanannya. “Aku sudah korban Rp 40 ribu nongkrong di restoran bandara, eh nggak tahunya di Juanda nggak ada WiFi-nya. Jadinya nggak bisa kirim berita,” akunya, kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya ke Deni, driver kami yang lain, ternyata tak tahu pula dimana warnet terdekat. Kami, kecuali Feri, putar-putar di sekitar Hang Lekir, dekat kampus Universitas Dr Moestopo. Hasilnya setali tiga uang. Kami tak menemukan warnet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya diputuskan teman-teman untuk ke kantor Indo.Pos di Kebayoran Lama. Kira-kira 5 km dari kawasan Senayan. “Kan kita juga wartawan Jawa Pos Group?” cetus Tegar si Radar Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegar dan Lina sibuk kontak-kontak teman-teman Indo.Pos yang dikenalnya. Semuanya sama: kontak ke Pak Imam Syafii, pemred Indo.Pos. Tegar akhirnya kontak Pak Imam. “Oke, kita kesana,” kata Tegar usai telepon Pak Imam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kami tiba di kantor Indo.Pos di Kebayoran Lama. Kantornya bernuansa biru, laiknya Graha Pena di Surabaya. Semua kantor jaringan Jawa Pos memang bernama Graha Pena. Tapi, Graha Pena Jakarta bentuknya tak semegah Graha Pena Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami langsung menuju lantai 10, redaksi Jawa Pos-Indo.Pos. Di lantai 10 kami disambut Pak Imam. Redaksi masih sepi ketika kami menjejakkan kaki di sana sekitar pukul 16.00. Tak lebih hanya ada sekitar 10 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami dikenalkan Pak Imam dengan Farouk Arnaz (naz) yang biasa ngepos di Mabes Polri. Lalu Ibnu Yunianto (noe) yang ngepos di Istana Wapres dan Agus Wirawan (wir) wartawan ekbis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampir ke Indo.Pos sudah cukup untuk mengetahui suasana kantor Jawa Pos di Jakarta. (*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-8463407023357107271?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/8463407023357107271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=8463407023357107271' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8463407023357107271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8463407023357107271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/ramenya-grand-final-proliga-2008-1.html' title='Dari Surabaya ke Jakarta'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-8322186296933556671</id><published>2008-05-01T06:16:00.000-07:00</published><updated>2008-12-12T00:58:31.612-08:00</updated><title type='text'>Merintis Guru Besar dari Bantaran Kali Bedadung</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SBnEz50NRbI/AAAAAAAAAAs/CUei94vKexw/s1600-h/ayu.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5195400041120744882" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SBnEz50NRbI/AAAAAAAAAAs/CUei94vKexw/s320/ayu.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Ayu Sutarto dikenal sebagai pakar &lt;/em&gt;cultural studies &lt;em&gt;yang acap mengisi berbagai forum kebudayaan dan wisata di seantero Indonesia dan luar negeri. Selasa (29/4) lalu dirinya dikukuhkan sebagai guru besar Universitas Jember (Unej). Gelar guru besar itu diretasnya dari bantaran Kali Bedadung.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UDARA cukup membikin gerah ketika aku tiba di Jl Sumatera VI No 35. Rumah mungil di gang sempit itu tampak mencolok. Hanay cukup dilewati satu mobil. Dibalut cat biru tua menyala, rumah itu terlihat ngejreng. Di rumah itulah Ayu merenda riwayat perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti biasanya, rumah itu lebih hiruk pikuk dari biasanya. Sejumlah kerabat datang bersamaan pengukuhan Ayu sebagai guru besar baru di Unej. Bersama Ayu, Unej mengukuhkan Prof Dr Sumadji dan Prof Dr Sutarto sebagai guru besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang tamunya tak seberapa besar. Berkaos oblong dengan mamakai celana pendek, Ayu menerimaku dengan ramah. Setelah tahu akan diwawancarai, dia menawarkan wawancara dilakukan di perpustakaan pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Letaknya sekitar 50 meter arah barat rumahnya. Kira-kira hanya sekitar 25 meter dari bantaran Kali Bedadung. Antara Kali Bedadung dengan rumah Ayu hanya berjarak kurang 200 meter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpustakaan pribadi Ayu boleh dibilang cukup bagus. Lantainya berkeramik mengkilap. Catnya kalem. Suasana lebih senyap sehingga sangat cocok bagi yang memuja konsentrasi tinggi manakala melahap buku. “Ini rumah kedua saya. Disini saya biasa nyepi, menulis, merenung, dan mencari inspirasi,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada kesan mewah di perpustakaan pribadi yang telah berdiri sekitar 15 tahun itu. Perpustakaan itu memiliki denah layaknya rumah pribadi. Ada dua kamar tidur di dalamnya. Namun, seluruh sudut ruang tamu dan ruang tengah dipenuhi rak-rak buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah buku di perpustakaan itu setiap tahun selalu bertambah –hingga membuat Ayu tak sempat menghitung jumlah koleksi bukunya. Tak cukup di rak, buku-buku itu ditumpuk di sebuah meja kecil panjang. Masih tak cukup pula, Ayu memboyong sebagian bukunya ke rumah pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa rak, ikut dipajang beberapa vandel penghargaan dari berbagai instansi. Seperti PWI Award 2007 dari PWI Jember, penghargaan dari Mendiknas sebagai dosen teladan, dan beragam penghargaan lainnya. Di beberapa dinding terpampang aneka poster, seperti poster Chairil Anwar dan Rendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya biasa menerima tamu di perpustakaan ini,” katanya. Beberapa kolega Ayu pernah bermalam di perpustakaan sederhana ini. Salah seorang diantaranya adalah Habiburrahman El Zhirazy alias Kang Abik, penulis novel &lt;em&gt;Ayat-Ayat Cinta &lt;/em&gt;yang sangat laris itu. “Saat itu dia belum jadi orang kaya baru seperti sekarang,”imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastrawan asal Madura Zawawi Imron juga pernah bermalam di perpustakaannya itu. Penyair berjuluk Si Celurit Emas itu memang sering diundang ke berbagai forum sastra di beberapa kampus di Jember.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar ribuan koleksi buku tak lenyap dimakan rayap, Ayu mengangkat seorang staf bernama Yuli Indra. Yuli yang juga jadi “tukang ketiknya” itu paling ahli dalam mewarat buku. “Dia yang tahu pakai obat apa sehingga buku-buku tidak dimakan rayap atau ngengat. Kadang dikasih kapur antiserangga,” tandasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kepakarannya di bidang studi kebudayaan, Ayu telah keliling Indonesia dan 12 negara untuk menjadi delegasi atau pembicara dalam forum-forum kebudayaan. Sejumlah negara Eropa juga telah disinggahinya. “Seperti kemarin dalam pertemuan menteri-menteri kebudayaan di Malaysia, tiba-tiba saja saya diundang jadi delegasi. Apa pertimbangannya tidak tahu,” ujar pria asal Pacitan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tak ada darah budaya dari kedua orang tuanya, Ayu kecil dikenal sebagai bocah yang gila wayang. “Saya sering keluar diam-diam loncat jendela hanya untuk melihat wayang. Istilahnya &lt;em&gt;gelethak gendang&lt;/em&gt;. Sebelum bapak bangun, saya sudah pulang,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu dilakukan karena bapaknya, Wijoto bin H. Umar Sidik, tak mengizinkan Ayu kecil untuk keluyuran malam. Kegilaan Ayu pada ragam budaya kian terasah dengan hobinya yang tak pernah melewati setiap edisi majalah berbahasa Jawa, &lt;em&gt;Penjebar Semangat &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;Jayabaya&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukannya mengajar dan menjadi pembicara dalam berbagai forum budaya di Indonesia dan mancanegara, Ayu tak lupa dengan tanggung jawab sosialnya. Sejak 10 tahun lalu, dia mendirikan Yayasan Untukmu Si Kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama yayasannya yang terdengar unik itu, ternyata memiliki makna mendalam. “Yayasan itu didirikan untuk orang kecil, orang berpenghasilan kecil, orang dengan harapan kecil, dan orang dengan rezeki kecil,” tutur bapak empat anak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam pidato pembukaannya dalam pengukuhan guru besar, Ayu sempat berkata bahwa dirinya menjadi guru besar seteloah menjadi guru kecil. Yakni, menjadi guru kecil bagi orang kecil, orang bermasa depan kecil, berpenghasilan kecil, berharapan kecil, dan berezeki kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gedung yayasan yang terletak persis di bibir bantaran Kali Bedadung itu memang menjadi arena bermain dan taman baca bagi anak-anak. Di dalamnya banyak meja panjang kecil dan sebuah white board. Buku-buku juga terhampar di beberapa rak. “Ada tiga sukarelawan yang biasa membimbing anak-anak disini,” ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk operasional yayasannya, Ayu mengaku membiayainya dengan menyisihkan 2,5 persen honor yang diterima ketika diundang ke berbagai forum kebudayaan. “Dengan cara agama saya itu saya membersihkan rezeki,” akunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segala kelebihan dan kepeduliannya, Ayu tetaplah orang yang bersahaja. Kemana-mana selalu naik motor yang tak lagi baru. Tak jarang pula Ayu pergi ke kampus dengan ngonthel sepeda. “Bukan kampanye hemat energi, tapi karena saya memang benar-benar tak punya mobil. Dan saya tak malu ngonthel sepeda,” tuturnya sembari terkekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali Bedadung sore kemarin senyap. Airnya mengalir ramah melintasi samping sebuah gedung mungil bernama Yayasan Untukmu Si Kecil. Dari bantaran Kali Bedadung itu, seorang guru besar lahir. (*) &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Foto by Heru Putranto&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-8322186296933556671?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/8322186296933556671/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=8322186296933556671' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8322186296933556671'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8322186296933556671'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/merintis-guru-besar-dari-bantaran-kali.html' title='Merintis Guru Besar dari Bantaran Kali Bedadung'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/SBnEz50NRbI/AAAAAAAAAAs/CUei94vKexw/s72-c/ayu.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-7134335607530775326</id><published>2008-05-01T06:07:00.000-07:00</published><updated>2008-05-01T06:12:35.254-07:00</updated><title type='text'>Merindukan Good News dari Unej</title><content type='html'>&lt;p&gt;UNEJ is news maker&lt;em&gt;. Unej yang merupakan akronim Universitas Jember dikenal sebagai pencipta warta. Sayang, yang paling kuingat dalam otakku adalah &lt;/em&gt;bad news &lt;em&gt;(warta buruk).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahad (27/4) itu, saya datang ke kantor menjelang pukul 16.00. Tak ada istimewa, laiknya sore-sore tiap Ahad yang sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak pindah ke Jl Imam Bonjol 129, kantorku (&lt;em&gt;Radar Jember&lt;/em&gt;), kian senyap. Di depan kantor tak ada lagi hiruk pikuk kendaraan. Yang ada hanya sesekali motor atau mobil yang melintas. Lain ketika kantorku masih di Jl A. Yani 99 yang rame itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah di eks kampus Akademi Bahasa Asing (ABA) Bhakti Pertiwi itu berkantor pula percetakan Jawa Pos, PT Temprina Media Grafika, harian Memorandum, dan JTV Jember. Tak sepi-sepi amat-lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu hanya beberapa kawan wartawan yang sudah menghadap komputer. Elita, rekanku yang biasa menulis berita pendidikan, sudah nongkrong di depan komputer, persis di bawah AC di sebelah utara. Pemimpin Redaksi Suprianto dan Redaktur Pelaksana Wahyudi Widodo juga telah asyik di depan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menyalakan komputer, aku beranjak menuju &lt;em&gt;pantry&lt;/em&gt;. Bikin segelas &lt;em&gt;coffee mix&lt;/em&gt;, tentu amat sedap. Belum juga kakiku menginjak pantry, dering ponsel CDMA-ku berdering. Dari layar ponselm tertulis nama seorang politisi tengah memanggilku. Dia acap kujadikan narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ngobrol via ponsel di lobi sekira 5 menit, Mas Pri (sapaanku pada pemred) duduk menghampiriku. “Mas, cover story sampean pending dulu, ya. Banyak berita bagus hari ini. Elita ada berita buku perpus Unej dijual di loakan. Mau kubuat opening,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai rapat redaksi Selasa sebelumnya, pekan ini mau redaksi mau membikin &lt;em&gt;cover story &lt;/em&gt;tentang program keluarga harapan (PKH) yang sempat geger di Arjasa. “Tak apalah. Itung-itung aku masih bisa ikut pengajian di kampung,” pekikku dalam hati dengan girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sejak aku jadi redaktur edukasi, intensitasku untuk mengikuti kegiatan di kampung kian jaranng –kalau tidak boleh dibilang nyaris tak pernah kuikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Mas Pri beranjak ke musala, aku jadi berpikir, “Ada apa lagi dengan Unej?” Almamaterku itu memang jadi kampus terbesar di Jawa Timur bagian timur. Fakultas dan program studinya lengkap. Jadi amat layak kalau Unej sering diberitakan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, kabar di kampus yang telah menempaku selama 4,5 tahun itu lebih sering berkategori bad news. Jarang sekali aku mendengar &lt;em&gt;good news &lt;/em&gt;dari “Kampus Perjuangan” itu. (Meski aku tak setuju dengan slogan “Kampus Perjuangan.”)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unik, barangkali. Sejak aku menjadi jurnalis akhir Maret 2003 –tetapi aku sempat magang tiga bulan di &lt;em&gt;Radar Jember &lt;/em&gt;pada Agustus 2001— aku lebih mudah mengingat berita-berita buruk tentang Unej daripada berita baiknya. Mungkin ingatanku saja yang terkesan diskriminatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, berita tentang pemukulan satpam Unej kepada para mahasiswa dan jurnalis saat demo pemilihan rektor akhir 2003 silam. Untuk peristiwa yang ini, tak mungkin kulupakan sepanjang hayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku termasuk salah seorang pelaku sejarahnya. Bukan sekadar karena aku yang meliput, melainkan aku menjadi salah seorang korban aksi brutal satpam Unej. Masih kuingat bagaimana beringasnya satpam Unej menggebuki mahasiswa yang hendak masuk ke Gedung Soetardjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara mereka ada adik-adik kelasku. Belasan mahasiswa terluka dan mengalami memar di sekujur badan akibat pentungan satpam brutal itu. Tak pilih-pilih sasaran, sejumlah jurnalis juga turut menjadi korban. Selain aku, ada Muslim (&lt;em&gt;Surabaya Post&lt;/em&gt;) –yang kini menjadi panwas pilgub itu—dan Bang Budi Moein (&lt;em&gt;RRI Pro 3 Jakarta&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wartawan se-Jember pun tersulut solidaritasnya. Besoknya, dipimpin MS Rasyid –pemred &lt;em&gt;Radar Jember &lt;/em&gt;kala itu yang hingga kini masih kusegani— puluhan wartawan harian se-Jember berunjuk rasa ke kantor pusat Unej.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua media mem-&lt;em&gt;blow up &lt;/em&gt;kasus itu habis-habisan. Terpuruklah reputasi Unej. Hari pertama terpilihnya Rektor Tarcisius Sutikto harus dikotori dengan percik darah mahasiswa. Aku masih ingat, koranku tempat bekerja memberitakan peristiwa memalukan itu satu halaman penuh! Tak ada iklan di halaman satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judulnya pun bikin bulu roma begidik. &lt;em&gt;Pelantikan Sutikto Berdarah-darah!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat peristiwa itu, Unej harus menelan pil pahit. Media harian se-Jember memboikot Unej beberapa bulan. “Kampus Perjuangan” itu tak pernah diwartakan lagi. Inilah &lt;em&gt;bad news &lt;/em&gt;Unej yang paling kuingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus lain yang bisa kuingat dengan baik adalah kasus dugaan korupsi dana POMA (persatuan orang tua mahasiswa). Ketika kasus ini mencuat, aku tengah bertugas di Lumajang. Aku hanya mengikuti dari berita di koranku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian teman-temanku bilang, aku tengah menjalani masa pengasingan di Lumajang. Pasca pilkada, GM Radar Jember kala itu, Andung Kurniawan bilang, “Hari &lt;em&gt;tour of duty &lt;/em&gt;ke Lumajang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasingan. Ah, senitimentil sekali, menurutku. Aku bukanlah seperti Bung Karno yang harus menjalani pengasingan di beberapa tempat. Aku bukan pula Pangeran Diponegoro yang diasingkan ke Manado. Aku hanya seorang Hari Setiawan, yang tengah belajar menjadi wartawan profesional. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kata kolegaku Oryza, “Kita harus menjadi wartawan lokal tapi standar nasional.” Ya, gajinya standar nasional, fasilitasnya standar nasional, dan kualitas berita standar nasional. Alangkah enaknya, demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus menjalani pengasingan? Kawan-kawan jurnalis yang membaca berita ini, pasti tahu mengapa. Aku enggan menulisnya panjang lebar disini. Biarlah itu menjadi salah satu puzzle sejarah hidup bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal POMA. Setelah kejanggalan POMA diungkap Ketua Forum Penyelamat Unej Dr Hidayat Teguh Wiyono, kasus itu menggelinding ke meja penyidik Polda Jatim. Sejumlah dekan diperiksa di Korps Bhayangkara itu. Tak ketinggalan sejumlah ketua POMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dua petinggi Unej telah ditetapkan sebagai tersangka. Ah, ketemu bad news lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, ada lagi kasus dugaan plagiasi modul perkuliahan di pascasarjana. Lagi-lagi Teguh menjadi whistle blower-nya. Seorang profesor pertanian ditengarai menjiplak modul profesor pertanian yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ih, memalukan, kalau memang benar! Dan, lagi-lagi yang kuingat dari Unej, &lt;em&gt;bad news &lt;/em&gt;lagi yang mamapir di telingaku. Seperti yang sudah-sudah, semua kasus di Unej yang mencuat ke publik, nyaris tanpa penyelesaian. Semua dibiarkan berlalu bak diterpa angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, bisa jadi Unej telah menyelesaikannya. Siapa tahu? Barangkali, penyelesaian yang dilakukan tak perlu diekspos ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan &lt;em&gt;bad news &lt;/em&gt;itu mampir lagi ke telingaku, sekira Februari lalu. Yang kali ini sangat-sangat memalukan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ratusan mahasiswa Unej kena tipu. Generasi penerus bangsa yang memuja rasionalitas dan intelektualitas itu menjadi korban SPP Siluman. Bayar melalui calo atau pengepul, dapat slip lunas SPP, tapi ternyata slip lunas itu aspal (asli tapi palsu). Asli slipnya, palsu tanda tangan dan stempelnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menggelinding dan mendominasi pemberitaan media massa lokal dan nasional, seorang tersangka telah ditetapkan polisi. Yang tak habis pikir dariku adalah, betapa konyolnya logika adik-adik kelasku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara tergiur diskon SPP Rp 50 – 100 ribu, mereka rela bayar melalui calo. Ujung-ujungnya dikibuli. Menurutku, tak salah-salah amat si calo SPP itu. Di tengah cupetnya lapangan kerja, barangkali jadi calo SPP itu amat menguntungkan. Semacam pekerjaan musiman-lah. Kerja tiap semester sekali. Tapi, untungnya menggiurkan. Konon, praktik ini sudah terjadi bertahun-tahun lamanya. Ini warta buruk yang benar-benar buruk bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, berita rekanku Elita, Ahad lalu. Banyak koleksi buku-buku perpustakaan fakultas Unej yang dijual bebas di loakan. Alamak, pintar sekali almamaterku ini bikin berita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, berita-berita buruk yang sering mampir di telingaku. Aku kira, ini semua koreksi bagi Unej.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Elita menyelesaikan berita tersebut, aku baca-baca dari komputerku. Aku hanya geleng-geleng kepala. Aku bertanya dalam hati, mengapa kasus demi kasus yang memalukan terjadi di institusi akademik itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak tahu, mengapa berita-berita bagus (&lt;em&gt;good news&lt;/em&gt;) tentang Unej jarang ter-&lt;em&gt;blow up &lt;/em&gt;di media massa. Aku tak tahu, apakah rekan-rekan jurnalis tak tertarik atau memang benar-benar tak tahu jika Unej –ini juga saya yakini—sebenarnya juga sering menciptakan prestasi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, Humas Unej sebagai etalase informasi tentang Unej, lebih cakap dalam mendongkrak citra Unej. Rajin berkomunikasi dengan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih berharap, suatu saat &lt;em&gt;good news &lt;/em&gt;tentang Unej bisa ditulis kawan-kawan jurnalis. (*)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-7134335607530775326?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/7134335607530775326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=7134335607530775326' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/7134335607530775326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/7134335607530775326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/merindukan-good-news-dari-unej.html' title='Merindukan Good News dari Unej'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-3023219466131840106</id><published>2008-05-01T06:03:00.001-07:00</published><updated>2008-05-01T06:05:15.718-07:00</updated><title type='text'>Setelah Tertidur Lama ...</title><content type='html'>&lt;span &gt;Dengan sekuat tenaga, aku membangunkan kembali blog-ku yang tertidur selama dua bulan.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-3023219466131840106?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/3023219466131840106/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=3023219466131840106' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/3023219466131840106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/3023219466131840106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/05/setelah-tertidur-lama.html' title='Setelah Tertidur Lama ...'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-5448979169585151117</id><published>2008-02-28T03:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-12T00:58:31.739-08:00</updated><title type='text'>Jangan Sia-Siakan Si Kecil</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8aeaRB4XnI/AAAAAAAAAAk/rd9aLq7m5VM/s1600-h/audio+2-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171995396166671986" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8aeaRB4XnI/AAAAAAAAAAk/rd9aLq7m5VM/s320/audio+2-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Namanya unik. Audio Viki. Bocah itu lahir di Desa Cangkring, Jenggawah, tiga tahun silam. Tapi, begitu aku melihat foto-foto jepretan fotografer hebat Radar Jember, Heru Putranto, hatiku teriris-iris. Audio seusia dengan sulungku, Zaky Fauzan Akbar.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bocah ini sudah empat kali keluar masuk rumah sakit. Penyebabnya sama: gizi buruk. Wati, sang bunda, pergi menjadi tenaga kerja wanita (TKW) April 2007. Saat itu, berat badannya 9,5 kg. Normal, seperti bocah sebayanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Baru tujuh bulan mengais ringgit di Malaysia, Mualis, suaminya meminta Wati pulang. Audio sakit. Dokter memvonisnya terkena gizi buruk dan tuberculosis (TB). Tubuhnya kurus kering.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Setiba di ruang redaksi, Heru langsung pamer bahwa dia dapat foto oke dari rumah sakit hari itu. "Foto bocah gizi buruk," katanya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Setelah Heru memindah foto Audio dari Nikkon D-200-nya ke komputer, aku langsung nge-klik foto-foto tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;”Wah, Afrika banget,” pekikku spontan. Agak nggak sopan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Jika diperhatikan selintas, orang mungkin tak percaya bahwa bocah itu asli Jember. Tapi, penampilannya sangat mirip dengan bocah-bocah Afrika korban perang dan kelaparan seperti yang sering kulihat di media massa atau situs agen foto internasional.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Aku penasaran dengan foto-foto yang diperoleh Heru. Masya Allah, sosok Audio yang terpampang di jepretan Heru benar-benar mengoyak batin. Tanpa kusadari mataku terasa panas. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tenggorokanku tercekat. Ada dua buah foto Audio tengah menunjuk ke arah lensa. Foto itu seakan-akan menunjuk hidung siapa pun yang melihat gambar itu. Foto itu punya sejuta makna.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Kamu harus bertanggung jawab,” aku menerjemahkan makna tudingan tangan Audio, sesukaku. Kita semua ikut bertanggung jawab terhadap nasib Audio-Audio yang lain.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;“Siapa kamu?” mungkin itu terjemahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Aku tak terlalu mendebatkan makna foto Audio itu. Pertanyaan yang sulit dijawab adalah; siapa yang harus bertanggung jawab dengan kondisi Audio itu? Dan bocah-bocah lain yang senasib?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Elita Sitorini, rekanku yang meliput sepenggal nasib Audio, menceritakan sedikit kisah bocah malang itu. Pendek kata, Audio adalah korban kemiskinan. Kemiskinan yang disebabkan ketidakadilan struktur. Atau, korban ketidakpedulian masyarakat sekitar. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ayahnya bekerja serabutan. Untuk mengubah nasib, Wati, ibunya pergi merantau menjadi TKW. Alih-alih nasib berubah, kemalangan justru menjelang. Sejak ditinggal ibunya, Audio ikut bapaknya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kadang kala, cerita Elita, Audio diajak ayahnya menjadi tukang parker dadakan di malam hari. Sembari menjadi juru parkir, Audio terlelap di dekapan bapaknya. Jika si kecil Audio terlelap, bocah itu digeletakkan di trotoar. Malangnya!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Semua jepretan kamera Heru ke tubuh Audio selalu berhasil menampar mata batinku. Ada foto Audio tengah menangis meminta makanan. Ada pula foto Audio tengah membawa sepiring makanan.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Semua foto-foto itu mengingatkanku pada pangeran kecilku: Zaky. Dia seusia dengan Audio.&lt;br /&gt;Jika aku lelah fisik dan pikiran, terkadang emosiku meledak-ledak saat Zaky rewel. Kadang dia tak mau tahu dengan kondisi Abi-nya yang lelah kerja seharian.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Atau, ada kalanya kubingin dia menangis karena permintaan jajannya tak kuturuti.&lt;br /&gt;Setelah melihat foto-foto Audio itu, aku jadi sering merasa berdosa kepada pangeran kecilku itu. Aku terlalu banyak membikin dia menangis.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Berdosalah aku jika menyia-nyiakan dua titipan terbesar yang Allah berikan padaku.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;“Maafkan, Abi, Sayank,” ucapku tulus.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dan, kabar duka itu baru kudengar beberapa hari lalu: Audio telah kembali pada Sang Khalik.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Foto: Heru Putranto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-5448979169585151117?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/5448979169585151117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=5448979169585151117' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/5448979169585151117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/5448979169585151117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/02/jangan-sia-siakan-si-kecil.html' title='Jangan Sia-Siakan Si Kecil'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8aeaRB4XnI/AAAAAAAAAAk/rd9aLq7m5VM/s72-c/audio+2-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-280116132238145291</id><published>2008-02-27T07:16:00.001-08:00</published><updated>2008-12-12T00:58:31.897-08:00</updated><title type='text'>Potret Ironi Pendidikan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8V_VxB4XkI/AAAAAAAAAAM/Xv5ve1aSme4/s1600-h/DSC_000ui.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5171679759020088898" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; CURSOR: hand; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8V_VxB4XkI/AAAAAAAAAAM/Xv5ve1aSme4/s320/DSC_000ui.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Pada 8 Februari 2008 lalu, aku berkunjung ke SDN Bintoro 3 Patrang. Heru Putranto, kolegaku yang fotografer hebat di Radar Jember itu, ada di boncengan motorku. Untuk kali kedua aku menyambangi sekolah yang dipimpin Purwadi itu. Kondisinya tak berubah. Rusak parah, tak tersentuh rehab sama sekali. SDN Bintoro 3 adalah potret ironi pendidikan di Jember. Jaraknya hanya 4 km dari kantor Dinas Pendidikan Jember!!!&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;em&gt;Foto: Heru Putranto&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-280116132238145291?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/280116132238145291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=280116132238145291' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/280116132238145291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/280116132238145291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/02/potret-ironi-pendidikan.html' title='Potret Ironi Pendidikan'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z7mdBlS-BeI/R8V_VxB4XkI/AAAAAAAAAAM/Xv5ve1aSme4/s72-c/DSC_000ui.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-8852734531495727797</id><published>2008-02-27T05:22:00.001-08:00</published><updated>2008-02-27T05:26:37.353-08:00</updated><title type='text'>Tekad dan Nekat Bikin Blog</title><content type='html'>Dikompor-komporin terus ternyata bisa bikin panas. Gara “Si Bejat” Oryza AW, rekanku di beritajatim.com, aku nekat bikin blog. Ayo… Sukseskan Gerakan Sejuta Blogger!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-8852734531495727797?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/8852734531495727797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=8852734531495727797' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8852734531495727797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/8852734531495727797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/02/tekad-dan-nekat-bikin-blog.html' title='Tekad dan Nekat Bikin Blog'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-1020887365965053788</id><published>2008-02-26T06:30:00.001-08:00</published><updated>2008-02-27T05:30:19.368-08:00</updated><title type='text'>Sik Belajar, Rek! Koreksi Yo ...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Gara-gara utak-atik bikin blog, malam ini aku pulang ke rumah agak kemalaman.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-1020887365965053788?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/1020887365965053788/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=1020887365965053788' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/1020887365965053788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/1020887365965053788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/02/blog-post_26.html' title='Sik Belajar, Rek! Koreksi Yo ...'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476316472142565364.post-4874807505387945256</id><published>2008-02-26T06:27:00.000-08:00</published><updated>2008-02-27T05:33:41.685-08:00</updated><title type='text'>Ngintip Bikin Blog</title><content type='html'>Ngintip cara bikin blog. Eh, ternyata bikin penasaran. Makin masuk, aku makin ketagihan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476316472142565364-4874807505387945256?l=setajampena.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://setajampena.blogspot.com/feeds/4874807505387945256/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476316472142565364&amp;postID=4874807505387945256' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/4874807505387945256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476316472142565364/posts/default/4874807505387945256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://setajampena.blogspot.com/2008/02/blog-post.html' title='Ngintip Bikin Blog'/><author><name>Hari Setiawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06786156351496322245</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
